Sakit Jiwa Efek Pemilu
- VIVAnews/Tri Saputro
"Dia sudah mengeluarkan effort yang luar biasa, kemudian mengidolakan seseorang, jadi itu sama jatuhnya karena punya harapan yang tinggi,"Â ujar Rose.
Sementara dari kacamata sosiologi, Sosiolog dari Universitas Nasional (Unas) Sigit Rohadi melihat ada beberapa faktor yang menyebabkan sebagian caleg mengalami stres hingga potensi sakit jiwa pasca-pemilu. Pertama, faktor raising expectation atau harapan yang ketinggian dari para caleg.
"Jadi para caleg yang harapannya melambung dihadapkan kenyataan dengan hasil sementara melalui quick count. Itu yang menyebabkan stres," ucapnya kepada VIVA.
Kedua, faktor deprivasi atau kondisi psikologis seseorang yang merasa tidak puas karena telah mengeluarkan dana besar, investasi besar, ditambah usia yang tak lagi muda. Sehingga dia melihat pemilu kali ini menjadi kesempatan terakhirnya.
"Tapi kalau masih muda atau baru terjun, mereka tidak begitu stres," ujar dia.
Selanjutnya, meminimalisir dan mengatasi gangguan jiwa
Cegah dan atasi gangguan jiwa
Untuk meminimalisir jumlah caleg gagal jadi pasien rumah sakit jiwa, Sigit menyarankan kepada caleg dan pendukungnya di pemilihan berikutnya untuk benar-benar yakin dan mampu dalam beberapa hal, seperti pengetahuan, materi dan psikis saat memutuskan terjun ke dunia politik dan menjadi anggota legislatif. Mereka perlu memahami sistem mendapatkan kursi di parlemen karena kenyataannya banyak dari mereka tidak paham dengan sistem tersebut, namun merasa sangat yakin mendapat kursi.
Ada yang namanya parliamentary threshold atau batas suara minimal partai politik dalam pemilu untuk ikut dalam penentuan perolehan kursi di parlemen. Ini yang tak dipahami mereka. Menurut dia, hal itu mestinya disosialisasikan sehingga caleg tak cuma modal duit untuk dapat kursi.
Dengan sosialisasi, mereka akan lebih paham sistem organisasi dan sistem politik, di mana politik itu pun bukan lahan untuk mendapatkan uang. Sigit menyarankan, orang yang ekonominya tidak kuat, jangan coba-coba masuk ke jalur politik karena cita-citanya bisa tamat.
"Kalau terjun di politik tidak memiliki sumber daya yang kuat, (tujuannya) hanya akan mencari APBN atau APBD untuk mengembalikan uang yang sudah dikeluarkan, partai harus kuat membentengi ini," ujarnya.