Tajir Lewat Hijab
- Instagram Vanilla Hijab
"Keluarga sempat tidak yakin aku jualan hijab. Tapi di situlah, saatnya aku berdoa," sambungnya.
Seiring berjalannya waktu, keluarga besar Atina pun melihat keseriusan Atina dalam mengembangkan bisnisnya tersebut. Keluarga akhirnya mendukung dan membantu Atina dalam mendistribusikan hijab.
"Ya Alhamdulillah, dengan berjalannya waktu, keluarga, khususnya orangtua mendukung. Mereka yang membantu aku mengemas, menulis pesanan hijab," katanya.
Bermula hanya memiliki satu karyawan dan kini Atina memiliki 75 karyawan. Tak mahal, harga satu hijab yang dijual Atina di awal bisnisnya tersebut.
"Dulu, awal pertama kali jual hijab dengan harga Rp40 ribuan," katanya.
Jika mengingat masa lalu, Atina mengaku tidak menyangka akan kesuksesannya saat ini.
"Enggak ada yang menyangka, enam tahun lalu aku mulai semua ini (bisnis hijab) dari nol. Di mana dulu, aku kuliah Teknik Perminyakan ITB, yang enggak ada hubungannya dengan hijab," katanya. Â
Memasuki semester empat, Atina bercerita diserang penyakit autoimun dan harus duduk di kursi roda. Ia, bahkan harus bolak-balik Jakarta-Bandung untuk berobat dan akhirnya, memutuskan untuk keluar dari ITB.
"Padahal, dulu mimpi aku jadi Insinyur Perminyakan, gaji ribuan dolar. Itu semua benar-benar hilang dan harus meninggalkan tempat kuliah yang dari dulu aku impikan," kenangnya.
Atina dulu belum berhijab, sampai pada akhirnya ia memutuskan menutupi bagian kepalanya dengan hijab dan mengenakan busana syar'i yang modern.
"Saya tidak memiliki latar belakang fesyen sama sekali, ini mengalir semua. Walau saya tidak memiliki latar belakang fesyen, tetapi semua yang mendukung saya di Vanilla Hijab adalah orang-orang yang mengerti akan fesyen," katanya.
Menggandeng sang kakak, Intan Fauziah sebagai CEO Vanilla Hijab, bisnis mereka pun makin berkembang. Siapa sangka, kini seluruh hijab produksinya laris manis bak kacang goreng. Penjualan hijab hanya dilakukan tiga kali dalam seminggu. Waktunya pun sudah ditetapkan, yakni pada pukul 05.30 WIB, foto produk akan diupload pada media sosial Instagram @vanillahijab. Dan, dalam hitungan menit, hijab-hijab tersebut ludes terjual. Â
"Di tahun kedua bisnis berjalan, kita sadar kok tiap jualan selalu habis. Misalkan, waktu masih ambil barang di Thamrin City, jual 500 habis. Awalnya, memang enggak langsung 500 potong, kan berangkatnya dari satu potong, sampai 20 potong. Akhirnya berani beli 20 potong, kemudian 100 potong habis, 300 habis, 500 habis, berarti banyak peminatnya. Kemudian, memutuskan membuat rumah produksi dan cari penjahit."