Tajir Lewat Hijab

Koleksi Vanilla Hijab
Sumber :
  • Instagram Vanilla Hijab

Untuk membuat hijab agar punya ciri khas, Linda sangat memikirkan segalanya, termasuk desain logo untuk nama brand-nya. "Logo kita ada titik empat yang melambangkan kancing yang ada di pinggiran kerudung kita."

img_title Paxel Catat Pengiriman Lebaran 2026 Tak Hanya Didominasi Barang Makanan

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Diakuinya, sudah sejak lama, dia ingin memiliki satu brand dengan tulisan dan nama yang eye catching. Bahkan dari awal, dia selalu mimpi punya brand bertaraf internasional.

img_title Usai Ramadan, Orang Indonesia Makin Selektif dalam Berbelanja

"Jadi, aku kepengen punya suatu brand yang mudah didengar oleh lidah internasional juga enak," katanya, saat berbincang dengan VIVA.

Sempat kebingungan menetapkan nama brand, dia pun teringat ketika masih duduk di bangku Sekolah Dasar, saat merasa kebingunan, dia selalu melakukan hitung kancing. Nah, dari situlah terpikir untuk memilih nama 'Buttonscraves'.  

img_title Kredivo 'Nyayur' selama Ramadan hingga Lebaran

"Dari situ langsung klik inspirasinya dan langsung muncul. Buttonscraves itu kancing dalam bahasa Inggris yang universal, aku pilih itu."

Bukan cuma memikirkan logo, dalam memulai bisnisnya, Linda juga memikirkan bagaimana packaging-nya, agar orang tertarik untuk membeli produknya. Sehingga, jika ingin menjadikan produk ini sebagai kado, tak perlu repot lagi untuk membungkusnya. "Karena, packaging Buttonscarves seekslusif itu."

Diceritakan pula oleh Linda, sebelum memulai bisnis ini, dia sempat bekerja di salah satu lembaga negara. Ketika memutuskan untuk tak lagi bekerja, kondisi keuangannya pun sedang goyang. Dan, saat memulai bisnis hijabnya, Linda juga menggunakan modal yang tak banyak. "Jadi, aku mulai dengan modal yang minim, Rp20 juta uang aku sendiri, dan Rp20 juta lagi aku pinjam dari kartu kredit buat modal.
 
Dari situ (kartu kredit) aku merasa punya tanggung jawab yang besar, aku harus bertanggung jawab karena sudah pakai uang orang."

Linda akhirnya bekerja keras bagaimana caranya agar dia tetap produktif menggunakan uangnya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dan bersyukur, bisnis di awal bulan pertama berjalan lancar. Tak main-main, untuk permulaan, dia mendapat keuntungan Rp10 juta. "Senang sekali bisa mendapatkan itu. Semua aku mulai sendiri,  dari aku yang balesin chat, dari aku yang packing, ke JNE semua sendiri."

Setelah enam bulan bisnisnya berjalan, perlahan tapi pasti, semua berjalan lancar hingga Linda memiliki tim kerja tambahan. Tak main-main juga, pelanggannya bahkan bukan cuma dari Indonesia, tapi juga berasal dari luar negeri. "20 persennya itu market luar negeri, seperti Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam."

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut