Spionase Ala Israel di WhatsApp
- www.kaspersky.com
Anti-Malware Expert Kaspersky Lab, Victor Chebyshev menyebutkan, serangan Pegasus berkarakter serangan multi-stage yang mana pelaku mendapatkan pijakan para perangkat dengan menginstal aplikasi spyware di atasnya.
Namun, ada ngerinya Pegasus ini bisa beraksi tanpa pengguna melakukan apa pun. Seorang kolumnis teknologi Leonis Bershidsky menyebutkan, Pegasus bisa saja memasang dan bekerja mandiri tanpa ada aksi dari pengguna.Â
![]()
Cukup berikan nomor ponsel aktif saja maka dalam hitungan menit, semua isi smartphone langsung 'telanjang'. Mulai dari WhatsApp, iMessage, Gmail, Yahoo, Viber, Facebook, Telegram hingga Skype.
Kemampuan lain dari Pegasus yang membuat peneliti keamanan takjub adalah, spyware ini bisa mencoba menyembunyikan diri dengan rapi. Bahkan Pegasus bisa mematikan diri jika gagal berkomunikasi dengan server command and control lebih dari 60 hari. Pegasus juga bisa mendeteksi diri jika terpasang pada perangkat yang bukan sasaran, serta kartu SIM bukan target.Â
Dengan kecanggihan tersebut, Kaspersky dan lembaga keamanan lainnnya, Lookout, tak ragu menyebutkan Pegasus merupakan spyware paling top untuk iOS dan Android.
Siapa sasarannya?
Dengan label spyware paling jahat dan dahsyat, penyebaran Pegasus sudah meluas sampai ke beberapa negara dunia. Dalam laporannya pada 2017, Google mengklaim cuma lusinan saja perangkat Android yang terinfeksi spyware ini, tapi target dalam konteks serangan spionase, jumlah tersebut tergolong sangat banyak.Â
Pegasus yang menyerang Android tercatat sudah menyebar ke Israel, Georgia, Meksiko, kemudian berlanjut di Turki, Kenya, Nigeria, Uni Emirat Arab, Malaysia,, Botswana, Mozambik, Malaysia sampai Indonesia.Â
Sebagai pengembang program spionase, NOS Group tidak dengan tegas bertanggung jawab penyebaran Pegasus. Perusahaan ini berdalih cuma memproduksi dan kemudian menjualnya kepada klien mereka.Â
NOS Group berdalih cuma memasok teknologi untuk badan intelijen dan penegak hukum untuk memerangi terorisme dan kejahatan terorganisir.
"Teknologi kami punya lisensi untuk dipakai oleh lembaga pemerintah yang berwenang dengan tujuan memerangi kejahatan. Kami tidak mengoperasikan sistem, dan setelah proses perizinan dan pemeriksaan yang ketat, intelijen dan penegakan hukum yang menentukan langkah selanjutnya," demikian keterangan resmi NSO Group.