Spionase Ala Israel di WhatsApp
- www.kaspersky.com
Empat tahun lalu, Mansoor mengaku nyaris menjadi korban phishing yang belakangan ternyata adalah Pegasus. Kala itu dia menerima beberapa SMS yang berisi tautan mencurigakan. Mansoor sadar ada yang tak beres, makanya dia mengirimkan pesan-pesan singkat itu kepada ahli keamanan Citizen Lab serta perusahaan keamanan siber lainnya, Lookout, untuk diselidiki.Â
Ternyata Mansoor benar. Pesan singkat itu sangat berbahaya. Jika saja dia mengklik tautan pada pesan itu, iPhone miliknya langsung terinfeksi. Peneliti Lookout sampai mengatakan Pegasus merupakan serangan paling canggih yang pernah terlihat pada tiap endpoint.Â
Korban lainnya mengaku, yakni klien dari seorang pengacara asal Inggris. Dikutip dari The Guardian, pengacara tersebut menuding NSO Group berupaya membobol data klien mereka melalui WhatsApp.Â
Ia mengaku mendapatkan telepon lewat WhatsApp yang ternyata perangkat mata-mata atau spyware yang tujuannya mengeksploitasi celah pada WhatsApp. Pengacara ini juga mengklaim, peretas atau berulang kali mencoba memasang malware Pegasus di ponselnya dalam beberapa pekan terakhir.
"Saya curiga tapi tidak tahu siapa dalang di balik semua ini. Saya yakin sebagai upaya aksi mata-mata. Memang menjengkelkan tapi saya tidak terkejut," demikian pernyataan dari pengacara tersebut, seperti dikutip dari The Guardian, Rabu, 15 Mei 2019.
Bagaimana di Indonesia?
Insiden Pegasus yang melanda WhatsApp menjadi perhatian dari Chairman lembaga riset keamanan siber CISSReC, Pratama Persadha.Â
Pratama mengungkapkan, banyak pejabat di Indonesia berkomunikasi dan memberikan keputusan melalui grup WhatsApp. Menurutnya hal ini sangat riskan dan berbahaya.
"Sangat berbahaya pejabat atau tokoh penting di Indonesia memakai WhatsApp dan aplikasi pesan instan gratisan lainnya. Apalagi komunikasi yang dilakukan bersifat penting dan strategis," kata Pratama.
Untuk penggunaan Pegasus di Indonesia, perwakilan NOS Group mengakui Pegasus dibeli oleh klien dari Indonesia. Dikutip dari Haaretz, oleh klien Indonesia tersebut, Pegasus dipakai untuk memata-matai serta memburu kelompok minoritas gender seperti orang LGBT dan tokoh dari minoritas agama.Â
"Segera setelah saya sampai di negeri ini (Indonesia), klien memberi tahu saya bahwa bantuan kami diperlukan dengan penyelidikan yang macet alias jalan di tempat," kata perwakilan dari NOS Group.