Spionase Ala Israel di WhatsApp
- www.kaspersky.com
Selain itu, NSO Group juga menegaskan tidak akan terlibat dalam pengoperasian atau identifikasi target teknologinya, yang semata-mata dioperasikan oleh badan intelijen dan penegak hukum negara lain.
"Sekali lagi, kami tidak bisa dan tidak akan memakai teknologi sendiri untuk menargetkan individu maupun organisasi mana pun," ungkap NSO Group.
Pegasus diperkirakan merupakan mata-mata untuk menyasar korban kelas tinggi seperti pejabat dan institusi pemerintahan. WhatsApp menduga Pegasus ini menargetkan pihak yang sangat penting. Misalnya Amnesty International mengaku mereka menjadi korban mata-mata program Pegasus tersebut.Â
"Mereka bisa menginfeksi telepon Anda tanpa Anda melakukan tindakan apa pun," kata Wakil Direktur Program untuk Amnesty Tech, Danna Ingleton kepada BBC.
Menurutnya, ada banyak bukti bahwa peranti itu dipakai rezim-rezim untuk mengawasi aktivis dan jurnalis ternama.
"Harus ada pertanggungjawaban untuk hal ini. Industri ini tidak bisa terus berlanjut dengan kerahasiaan dan seperti Wild West," dikutip dari BBC.Â
Dalam laporan Irish Times, beberapa tahun lalu, para pegiat Hak Asasi Manusia (HAM) di Timur Tengah pernah menerima pesan teks melalui WhatsApp yang berisi tautan, jika diklik maka otomatis Pegasus akan terunduh ke ponsel mereka.
Pegasus juga diduga berada dibalik pengintaian almarhum wartawan Jamal Khashoggi. Pada Desember 2018, Omar Abdulaziz, seorang pembelot Arab Saudi yang kini bermukim di Montreal, Kanada, mengajukan gugatan ke Israel yang mengklaim bahwa perangkat lunak NSO digunakan untuk memata-matai jaringan komunikasinya.
Ia mengakui, saat itu dirinya melakukan kontak rutin dengan almarhum wartawan Jamal Khashoggi sebelum dibunuh pada Oktober tahun lalu. Cara spyware ini diketahui diinjeksikan melalui fitur panggilan telepon Whatsapp.
Pakar keamanan siber Vaksincom Alfons Tanujaya memiliki pandangan serupa. Makanya untuk konteks Indonesia, Menurutnya, Badan Siber dan Sandi Negara harus memastikan bisa melindungi pengguna kelas tinggi misalnya kementerian, menteri sampai presiden, agar tidak menjadi korban Pegasus.Â
![]()
Bicara korban, sasaran awal Pegasus juga bukan orang biasa. Kaspersky melaporkan, Pegasus pertama kali dideteksi berkat laporan dari aktivis Hak Asasi Manusia Uni Emirat Arab, Ahmed Masoor.Â