Rinjani dan Wacana Gunung Syariah
- ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi
"Kami belum memikirkan semacam itu sekarang, karena kita fokus memperbaiki manajemen pendakian Rinjani. Kalaupun masyarakat menginginkan itu kan wisata juga harus kondusif. Saya yakin wisatawan akan mengikuti aturan yang berlaku di suatu tempat," kata dia.
Dia menjelaskan, selama menjadi kepala TNGR, belum ada laporan langsung kepada dirinya terkait ditemukan aktivitas pendaki yang melanggar kesusilaan.Â
"Berkaitan dengan adanya gagasan pemisahan antara tenda laki-laki dan perempuan di kawasan Rinjani, yang kemungkinan akan menjadikan pro dan kontra di masyarakat, maka dapat kami sampaikan bahwa program tersebut tidak akan kami laksanakan karena bukan menjadi prioritas TNGR," ucapnya.
Sudiyono meminta masyarakat untuk mengakhiri perdebatan soal wacana pemisahan tenda pria dan perempuan di Rinjani.
"Kami mohon dengan hormat kepada semua pihak untuk segera mengakhiri pembicaraan atau perdebatan tema tersebut, karena bila diteruskan justru akan merugikan dunia pariwisata di Indonesia," imbaunya.
Pendapat Para Pendaki
Meski sekadar wacana, hal itu telah telanjur menyedot perhatian masyarakat luas, termasuk para pendaki aktif yang hobi naik gunung. Pendaki perempuan asal Jakarta, Umaya berpendapat, sebenarnya wacana tersebut cukup bagus, idenya baru dan ia belum pernah melihat peraturan semacam itu.
Namun, perempuan yang hobi mendaki gunung sejak sekolah menengah atas (SMA) ini masih mempertanyakan mekanisme peraturan itu akan seperti apa.Â
Menurutnya, saat naik gunung, terutama kaum perempuan, belum tentu sudah terbiasa naik gunung, sehingga otomatis mereka membutuhkan orang yang lebih kuat atau lebih senior sebagai penjaga. Umumnya para pendaki pria lah yang menjadi penjaga.
"Kalau memang nanti akan dipisah, bagaimana dengan pendaki-pendaki cewek yang belum pernah naik (gunung)? Apakah akan dikasih guide khusus cewek atau bagaimana?" ujarnya saat dihubungi VIVA, Kamis, 20 Juni 2019.
![]()
Perempuan yang naik gunung setiap beberapa bulan sekali itu menilai, aturan tersebut cukup sulit diterapkan. Apalagi fisik perempuan, terutama pendaki pemula, lebih rentan dibandingkan pria. Dalam hal mendaki gunung, tak bisa dimungkiri bahwa faktor ketahanan fisik memegang peranan penting.
Aturan memisahkan tenda pendaki pria dan perempuan di gunung juga dirasa Umaya tidak terlalu penting dan mendesak untuk diberlakukan, karena selama ini sangat jarang kasus mesum di gunung.Â