Rinjani dan Wacana Gunung Syariah

Panorama puncak Gunung Rinjani terlihat dari Desa Sapit, Kecamatan Suela, Lombok Timur, NTB
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi

Umaya mengaku tak pernah menemukan perilaku menyimpang dari para sesama pendaki selama pengalamannya naik gunung. Ia menuturkan, biasanya pendaki tidak hanya berdua saat naik gunung, melainkan beramai-ramai. Mereka juga tidak kepikiran untuk melakukan hal yang menyimpang di gunung. 

img_title Catatan Impresif Emil Audero, Tahan Imbang Getafe

"Kalau ke Rinjani langsung belum pernah, cuma kalau berdasarkan pengalaman naik gunung, aku hampir enggak pernah menemukan penyimpangan, enggak pernah menemukan itu. Kebanyakan yang aku tahu kalau orang naik gunung sudah capek. Ngapain berbuat (mesum)?," katanya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Namun, berbeda ketika ada pendaki yang merupakan wisatawan asing yang mengenakan pakaian terbuka. "Itu kan bukan mesum. Itu budaya mereka. Kita enggak bisa kontrol itu juga," tuturnya.

img_title Begini Strategi Bandara Lombok Percepat Arus Kendaraan Masuk Keluar Selama MotoGP Mandalika

Sementara itu, pendaki asal Jakarta lainnya, Indriyani A mengungkap ketidaksetujuaannya atas wacana pemisahan tenda pendaki pria dan perempuan di Gunung Rinjani, mengingat gunung ini adalah salah satu destinasi summit yang top di Indonesia. Ia berpendapat, kalau aturan ini diterapkan, dikhawatirkan jumlah wisatawan, baik lokal maupun mancanegara akan menurun. 

"Jadi enggak perlu sih diterapkan, kecuali untuk penginapan atau hotel, kalau konsepnya Lombok mau jadi wisata halal. Tapi berbeda, mendaki kan tujuannya menikmati alam," ucapnya.

img_title Gempa Magnitudo 5,2 Guncang Lombok Barat

Panorama puncak Gunung Rinjani terlihat dari Desa Sapit, Kecamatan Suela, Lombok Timur, NTB

Selain itu, dampak lainnya, kata Indriyani, memutus mata pencaharian penduduk lokal, seperti porter dan lain-lain yang bergantung pada sektor wisata Rinjani. 

"Ketika mendaki Rinjani, karena medannya agak berat, saya pakai jasa porter dan beberapa rekan pria untuk memastikan satu grup aman. Kami tidur di tenda terpisah kok. Kalau aturan ini diterapkan, tentu tidak memudahkan pendaki. Mendaki gunung kan ingin menikmati alam, refreshing, terutama untuk para pecandu ketinggian," kata Indriyani.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Pendaki lain, Ipan berpendapat kalau aturan ini diterapkan juga bakal merepotkan para ranger (sebutan untuk semacam leader) atau Badan SAR Nasional (Basarnas). Besar kemungkinan, pendaki yang tidak berpengalaman akan tersesat. Semakin banyak survivor atau pendaki pemula, maka semakin banyak juga melibatkan regu SAR.

Ia menambahkan, belakangan aktivitas naik gunung mulai populer. Semakin banyak pemula yang pergi ke gunung, dan biasanya jumlah pendaki pemula perempuan lebih banyak.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut