Kala Muncul Ide Ekspor Ganja
- ANTARA FOTO/Rahmad
1. Tetrahydrocannabinol (THC); Senyawa ini bersifat psikoaktif. Senyawa ini sangat larut dalam lemak, sehingga bisa menembus peredaran darah otak (blood brain barrier) dan memacu fungsi otak, yang dapat mengakibatkan perubahan sementara atas fungsi kognitif.
Senyawa ini pula yg menimbulkan efek adiksi atau ketergantungan. Senyawa dapat memengaruhi mood hingga menimbulkan euforia/rasa gembira berlebihan, meningkatkan selera makan, dan lainnya. Namun hanya bersifat sementara.
2. Cannabidiol (CBD); senyawa ini bersifat non-psikoaktif.
3. Cannabichromene (CBC); senyawa ini bersifat non-psikoaktif.
4. Cannabigerol (CBG); senyawa ini bersifat non-psikoaktif.
5. Cannabinol (CBN); senyawa ini bersifat non-psikoaktif.
6. Tetrahydro cannabinoic acid (THCA); senyawa ini bersifat non-psikoaktif.
Senyawa positif dalam ganja juga dibenarkan oleh peneliti lainnya. Peneliti Puslit Kimia LIPI Muhammad Hanafi, mengatakan, ada beberapa zat yang terkandung di dalam daun ganja. Tumbuhan dengan nama latin Cannabis sativa atau Cannabis indica ini memiliki zat yang bervariasi.
Hanafi mengatakan, senyawa positif yang terkandung dalam ganja disebut polifenol. Senyawa itu berfungsi sebagai antioksidan dan bisa menjadi bahan aktif untuk kesehatan. Selanjutnya, zat negatifnya bernama Tetrahydrokarbinol atau disebut dengan zat halusinogen.
"Polifenol secara umum berfungsi sebagai antioksidan dalam menangkap atau menetralisir radikal bebas. Bisa juga untuk menghambat pertumbuhan sel kanker. Polifenol, dikenal juga dengan senyawa flavonoid atau isoflavonoid," tuturnya.
Namun, menurut Reza, penggunaan tanaman ganja sebagai obat medis masih menjadi pro kontra.
"Ganja di Indonesia jadi pro kontra untuk ganja medis, sedangkan di beberapa negara seperti Thailand udah mulai untuk hal-hal kayak gitu (medis). Di kita belum jelas regulasinya, karena terbentur sama norma, sama adat, sama adab, dan lain-lain," ucap Reza.
Deretan Negara yang Legalkan Ganja
Rafli menyebutkan jika bahaya tanaman ganja merupakan konspirasi global. Bahkan ia menyebutkan, jika ganja bukan penyebab seseorang bisa menjadi pembunuh.
![]()
Peta dunia.
"Jadi ganja ini, ini adalah konspirasi global. Dibuat ganja nomor satu (tingkat) bahayanya. Narkotika yang lain dibuat nomor sekian-sekian,” ujarnya.
“Padahal yang paling sewot dan gila sekarang masuk penjara itu bukan orang ganja. Orang yang pakai sabu-sabu bunuh neneknya, pakai ekstasi segala macam," kata Rafli.