Kontroversi Makam Letnan Kolonel Heru Atmojo
- www.facebook.com
VIVAnews – Segenap masa mudanya menantang maut. Menerbangkan pesawat pemburu mustang ke langit Sulawesi. Lalu ke langit Sumatera. Menumpas pemberontak PRRI/Permesta. Menerbangkan pesawat tempur ke belantara Irian Barat. Berperang melawan tentara Belanda di ujung timur wilayah Indonesia itu.
Itu sebabnya negara memberinya sederetan bintang tanda jasa. Juga bintang gerilya. Memberi Letnan Kolonel Penerbang Heru Atmojo gelar pahlawan bangsa.
Ketika meninggal 29 Januari 2011, lelaki kelahiran Bondowoso, 3 Januari 1929 itu dimakamkan dengan upacara militer. Dia di makamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Inspektur Upacara membacakan sejumlah jasa dan penghargaan yang diterima.
Saat jenasahnya diturunkan ke liang lahat, tujuh prajurit TNI Angkatan Udara menembakan salvo ke udara. Bendera merah putih berukuran besar memayungi liang lahat itu. Inspektur upacara kemudian menyerahkan bendera merah putih kepada keluarga. Sebagai penghormatan tertinggi bangsa dan negara atas jasanya sebagai pahlawan. Disaksikan keluarga dan banyak orang, bendera itu diterima Bapak Suluh, kakak iparnya.
Hari itu Heru Atmojo kembali ke tanah, dalam iringan musik requiem yang dimainkan group musik Angkatan Udara. Diselimuti kesedihan, upacara itu berlangsung khidmat dan derai air mata. Di situ dia beristirahat dengan tenang. Kekal selamanya.
Ternyata itu cuma sebentar. Dua bulan sesudahnya, tanggal 29 Maret 2011, makam itu dibongkar. Saat VIVAnews berkunjung ke sana, makam Heru Atmodjo itu hanya tersisa sepetak tanah coklat dan batu yang diletakkan di tengahnya. Jenasahnya sudah tidak di sana.
Mengapa dipindahkan? Tak ada jawaban yang pasti. Ada yang menyebutkan karena permintaan keluarga. Yang lain menyebut alasan lantaran Heru Atmojo terlibat Gerakan 30 September 1965. Mana yang benar dari dua alasan itu, Ketua Ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Ifdal Kasim, tetap mempertanyakan akuntabilitas pemakaman dan pembongkaran itu.
"Proses pemakaman seseorang di Taman Makam Pahlawan Kalibata, tidaklah mudah," kata Ifdal, Selasa 26 April 2011.
Karena Keluarga atau PKI?
TNI Angkatan Udara menegaskan bahwa pemindahan makam mantan Asisten Direktur Intelejen Angkatan Udara Republik Indonesia ini atas permintaan keluarga. “Setahu saya keluarga minta untuk dipindahkan ke makam milik keluarga,” kata Kepala Dinas Penerangan Umum TNI AU Kolonel Chandra saat dihubungi VIvanews, Senin malam, 25 April 2011.