Uang Muka Rendah Tak Jamin Otomotif Moncer
- VIVAnews/Muhamad Solihin
Tanggapan pelaku bisnis
Beberapa pelaku bisnis otomotif mengapresiasi langkah yang dilakukan oleh pemerintah dalam hal kemudahan kepemilikan kendaraan. Salah satunya adalah PT BMW Indonesia, yang mengaku setengah dari konsumen mereka memakai jasa pembiayaan tersebut.
“Banyak pembeli BMW yang memakai financing. Dengan seperti itu, diharapkan bisa sangat membantu penjualan BMW,” ucap Vice President Sales PT BMW Indonesia, Jentri W Izhar.
Tanggapan positif juga datang dari PT Krama Yudha Tiga Berlian Motor (KTB), agen pemegang merek Mitsubishi di Indonesia.
Menurut Group Head Mitsubishi Motors Marketing Division PT KTB, Imam Choeru Cahya, pengaruh penurunan uang muka akan bagus ke penjualan. Karena berdasarkan tren paket pembiayaan sekarang, konsumen lebih memilih paket uang muka murah dibandingkan dengan paket lainya.
Namun, Imam memprediksi, efek dari peraturan penurunan uang muka ini baru bisa dirasakan kira-kira satu atau dua bulan ke depan.
“Berdasarkan informasi yang kami terima, peraturan BI ini baru dikeluarkan pekan ini, dan diperlukan waktu untuk sosialisasi, lalu mulai diimplementasi ke seluruh leasing, perbankan, dan masyarakat,” ujar Imam.
Penurunan besaran uang muka yang harus dibayarkan konsumen memang terlihat memudahkan mereka untuk membeli kendaraan. Namun, pada kenyataannya, tidak semua pihak melihat hal ini sebagai cara untuk mendongkrak penjualan.
Menurut salah satu pengamat otomotif, Suhari Sargo, proyek-proyek infrastruktur yang masih belum terlaksana, terutama di daerah-daerah turut memberikan andil terhadap pelemahan ekonomi.
Suhari memprediksi, momentum Lebaran tak akan terlalu banyak berpengaruh terhadap penjualan. Penurunan uang muka untuk kredit kendaraan bermotor dinilai belum terlalu memikat masyarakat saat ini.
"Sebenarnya, kelonggaran pada LTV (Loan to Value) ini tentu menjadi angin segar pabrikan mobil, tapi kan harus dilihat juga faktanya. Pasar mobil yang laris itu datang dari kalangan menengah ke bawah, itu dilihat dari mobil-mobil yang laku. Jadi, LTV belum akan berpengaruh," kata Suhari.
Hal senada juga diungkapkan oleh Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI). Ketua Umum AISI, Gunadi Sindhuwinata, mengatakan, saat ini yang memengaruhi jebloknya penjualan adalah daya beli masyarakat yang menurun.