Mobil Lokal di Ajang Internasional
- VIVA.co.id/Ahmad Rizaluddin
Sayangnya, hingga saat ini, di Indonesia masih belum ada aturan yang jelas mengenai kriteria dari mobil nasional, sehingga membuat beberapa perintis mobil nasional patah semangat.
Bahkan, kata Kalla, naik turunnya pamor mobnas karena masih "mengambangnya" aturan yang diberlakukan, apakah mobil harus dibuat di Indonesia atau sekadar komponen yang hanya diproduksi di Tanah Air.
Hal serupa juga diutarakan Ibnu Susilo, proyek mobil nasional merupakan tantangan yang perlu dijawab oleh pemerintah, mengingat daya beli masyarakat yang tinggi terhadap kendaraan. Namun sayang, porsi besar itu hanya dinikmati para produsen asing.
"Jika pemerintah hanya mendorong produsen otomotif asing untuk buka pabrik di sini (Indonesia) itu tidak akan menjawab persoalan. Kita tidak akan pernah punya mobil nasional," kata Ibnu.
Pemerintah, kata dia, seharusnya mendorong agar mobil nasional itu terus berdiri, tidak hanya di depan publik. Namun, sejalan dengan apa yang disampaikan.
"Karena, saat ini terlihat setengah-setengah, support gitu-gitu saja," ujar Ibnu.
Menurutnya, bila itu yang terus dilakukan, tidak akan mungkin embrio-embrio mobil nasional akan tumbuh. Terlebih, minat pasar sudah terbentuk dengan produk-produk mobil keluaran raksasa produsen otomotif yang ada saat ini.
Artinya kian sulit mobil-mobil nasional untuk bersaing merebut konsumen. Apalagi, stigma sudah terbentuk jika kualitas lokal diragukan ketimbang luar negeri.
Menurut Ibnu, meski membuka pabrik sekalipun di Indonesia, produsen mobil asing tidak akan membiarkan Indonesia mempunyai mobil nasional. Sebab, hal tersebut tentu berpotensi mengancam keberlangsungan bisnis mereka.
Kondisi serupa berbeda dengan yang terjadi di Malaysia, serta India. Di mana pemerintah mendukung penuh keberadaan mobil nasional.
"Maka itu, pemerintah harus membantu melakukan pengembangan industri otomotif yang mandiri. Sebab, teknologi asing apapun tidak bisa ditransfer ke kita. Pemerintah harus budayakan teknologi, manfaatkan banyak insinyur-insinyur kita," ujarnya.
"Jangan bicara mahalnya biaya riset, pengembangan teknologi dan sebagainya. Tetapi bicara ke depannya. Ibarat istri atau anak, apakah kita harus sayang dengan istri atau anak orang lain sedangkan keluarga kita belum terurus. Toh, tujuannya untuk membahagiakan mereka," kata Ibnu. (art)