Gerai CD Berguguran, Saatnya Era Digital?
- VIVA / Ichsan
Di antaranya, masalah pembajakan yang tak kunjung usai, dan kurangnya penegakan hukum yang tegas dari pemerintah.
"Tak bisa dipungkiri, pergantian era fisik ke musik digital tak bisa dilawan. Masalahnya, kalau penjualan secara digital menjadi industri, Indonesia belum siap, penegakan hukumnya kurang. Apalagi, masih banyak website yang memberi download lagu secara gratis," ujarnya.
Musisi gondrong itu menuntut adanya peran aktif pemerintah mengatasi hal ini. Transisi dalam dunia musik kerap terjadi, jika suatu saat nanti, cara menjual lagu seluruhnya via digital, lalu apa jaminan lagu yang sudah menjadi digital, tidak seenaknya diunduh orang tanpa membayar? Piyu berharap, ada hukum tegas agar hak musisi terlindungi.
"Dulu awalnya piringan hitam, terus berubah menjadi kaset. Kaset juga kemudian menjadi CD, sekarang di era digital, bagaimana cara pemerintah melindungi kami?" katanya.
Penjualan album fisik harus ada
Senada dengan Piyu, Abdee gitaris Slank mengaku prihatin dengan tutupnya gerai-gerai CD. Namun, ia melihat, kondisi ini sebagai cermin perubahan zaman.
Abdee justru ingin mendorong pelaku industri musik ikut berubah selaras dengan kemajuan teknologi. "Teknologi baru memang akan selalu menganggu teknologi lama," kata Abdee, diwawancara di hari pertama tahun 2016.
Menurut dia, harus ada cara lain agar penjualan album fisik tetap diminati. "Saya yakin, kondisi ini membuka inovasi dan banyak kesempatan lain. Kalau yang digital, kan sekarang sudah ada beli lagu secara download atau live streaming," katanya.
![]()
Abdee Slank.
Sebagai musisi, Abdee berharap teman-temannya tetap semangat menghasilkan karya. Karena, dengan karya bagus, kemasan menarik, dan mengikuti perkembangan zaman, musik akan hidup abadi tak tergerus zaman. "Tinggal kita mengemas kontennya, karena sekarang saingannya bukan lagi di Indonesia, tapi sudah dunia," katanya.
Arnie, bassist band wanita SHE asal Bandung menjelaskan, album musik berbentuk CD adalah karya yang bisa disentuh secara kasat mata. Meski, kini orang bisa membeli lagu secara digital, namun penjualan album dalam bentuk fisik jangan sampai hilang.
“Kalau CD itu kan bisa dikoleksi, kalau musik digital hanya tersimpan di gadget. Selain itu, kalau beli CD, kita juga jadi bisa melihat foto sang penyanyi di bagian sampul,” ujarnya, sambil menjelaskan bahwa hal-hal semacam itu, yang menjadikan album fisik terasa lebih personal buat fans.
Meski diakui menjual musik secara digital terkesan lebih praktis, sebagai seniman, ia merasa kepuasan yang lebih maksimal, jika karya musiknya terwujud dalam bentuk album fisik. Arnie bahkan menggambarkan, menjual musik secara digital itu seperti punya album tapi tidak riil.
“Indonesia harusnya punya badan yang mengurusi karya musisi. Kalau di luar negeri, mereka bisa go-international, karena badan hukumnya kuat dan mendukung seniman. Sementara, di Indonesia, belum ada yang seperti itu. Pembajakan saja terkesan dibiarkan oleh pemerintah,” ujarnya memberi saran.