Sihir Gerhana Matahari Total
- U-Report
Di tengah larangan itu, anehnya masyarakat hanya boleh menyaksikan GMT dari siaran langsung Stasiun TVRI yang bekerjasama dengan NHK Jepang. Siaran langsung dilakukan di kawasan Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah.
Situasi kontras terjadi dalam penyambutan GMT pada tahun ini. Semarak sudah terlihat di mana-mana menunggu datangnya GMT. Denyut semarak di 11 kota di 12 provinsi yang dilintasi GMT dalam sebulan terakhir sudah terlihat. Komunitas astronomi, anak sekolah sampai anak pesantren ikut sibuk dengan penyambutan GMT 2016. Tak ketinggalan peneliti dalam negeri dan luar negeri serta lembaga riset pemerintah berbondang-bondong menyiapkan pengamatan gerhana. Â
Dalam beberapa hari terakhir beberapa daerah sudah menyiapkan acara nonton bareng GMT. Festival digelar, live streaming juga disiapkan beberapa lembaga peneliti dan disiarkan televisi, ratusan anak sekolah di Palembang juga riuh ikut membuat kacamata gerhana sampai industri pariwisata bergairah. Bahkan pejabat mulai dari Presiden, Wakil Presiden, Menteri sampai pejabat di daerah yang sudah siap menyaksikan detik-detik GMT.
Menanggapi antusiasme masyarakat tersebut, Ketua Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Thomas Djamaluddin yakin momentum GMT 2016 ini akan bermakna bagi peningkatan pengetahuan dan minat atas fenomena alam dan astronomi di masa depan.
"GMT bisa sebagai pemacu semangat publik untuk mengenal fenomena alam berbasis sains," kata dia kepada VIVA.co.id, Selasa 8 Maret 2016.
Doktor lulusan Kyoto University, Jepang itu yakin momentum antusiasme publik atas fenomena alam dengan sudut pandang sains akan makin terus berlanjut usai GMT. Ia mengatakan, setelah GMT ini, Lapan akan terus memberikan edukasi berkelanjutan kepada publik sehingga sudut pandang ilmiah dan basis ilmu pengetahuan makin menjadi standar masyarakat.
"Dengan banyaknya fenomena alam yang jadi perhatian publik, seperti gerhana matahari dan bulan, publik makin terbiasa mengasah keingintahuan dan mencari jawaban yang sahih," ujar dia.
Sementara peneliti Lapan, Abdul Rahman berharap momentum euforia publik atas GMT kali ini menjadi hal penting yaitu bisa bisa makin mengikis mitos yang berkembang di masyarakat selama ini.
Abdul mengatakan dengan sudut pandang mitos, maka masyarakat menduga fenomena alam sepeti GMT dengan landasan dan mengaitkan dengan hal yang tak rasional.