Inggris Hengkang, Uni Eropa Berguncang
- uk.reuters.com
Di Inggris sendiri, hasil referendum membuat PM Inggris David Cameron memilih mundur. Melalui pernyataan resminya, Cameron yang lebih memilih, agar Inggris tetap bersama Uni Eropa, menyatakan akan mencoba menenangkan "kapal" pascareferendum, hingga secara resmi mundur pada Oktober 2016.
Namun, kelompok pro Brexit, seperti Boris Johnson dan Michael Gove meminta Cameron untuk tetap menjadi PM, apapun hasil referendum. Hanya Nigel Farage yang meminta Cameron untuk turun dari jabatannya.
Namun, keputusan Cameron yang baru akan mundur pada Oktober dan menyerahkan seluruh proses mundur dari Uni Eropa pada penggantinya ditentang oleh petinggi blok negara maju tersebut.
Berikutnya, Kepala Komisi Eropa gelar pertemuan...
Kepala Komisi Eropa gelar pertemuan
Tak lama setelah hasil referendum yang mengatakan Inggris keluar dari Uni Eropa menjadi berita utama di seluruh media Inggris, Kepala Komisi Eropa Jean-Claude Juncker melakukan pertemuan dengan Presiden Parlemen Eropa Martin Schulz, Presiden Dewan Eropa Donald Tusk, dan Perdana Menteri Belanda Mark Ruttee.
Empat petinggi Eropa itu mengeluarkan pernyataan yang menyesalkan hasil referendum, namun tetap menghormati keputusan tersebut. Melalui pernyataannya, mereka juga meminta rakyat Inggris untuk segera bersiap menerima konsekuensi atas keputusan tersebut, bagaimana pun menyakitkannya proses tersebut.
Setiap keterlambatan yang tidak perlu, hanya akan memperpanjang ketidakpastian. Uni Eropa mengaku sangat siap bernegosiasi cepat dengan Inggris mengenai syarat dan ketentuan pengunduran diri negara kerajaan itu dari Uni Eropa. Selain itu, Uni Eropa juga mengatakan, mereka bertekad akan terus melanjutkan perjalanan dengan 27 anggota tersisa.
Keputusan Uni Eropa untuk segera merapatkan barisan dan menguatkan keanggotaan sangat bisa dipahami. Bagaimana pun keberhasilan referendum Inggris bisa menularkan dampak dan gejolak yang sama pada negara Eropa lainnya, seperti yang sudah disuarakan oleh kelompok sayap kanan Belanda dan Prancis.
Sementara itu, Inggris, seperti yang disampaikan PM Cameron, mungkin akan seperti kapal yang mengalami guncangan dan butuh waktu untuk kembali stabil. (asp)