Bom Solo Bagian dari Serangan Global ISIS
- ANTARA/Maulana Surya
Rantai tragedi kemanusiaan yang didalangi kelompok garis keras ternyata belum berhenti. Pada Minggu, 3 Juli 2016, terjadi ledakan bom di kawasan pusat perbelanjaan di Karrada, Baghdad, Irak. Korban tewas dalam serangan ini dicatat hingga 165 orang dan korban luka hingga 225 orang. Atas insiden tersebut, ISIS lagi mengaku menjadi dalangnya.
Pada Senin, 4 Juli 2016, terjadi serangan berturut-turut di tiga kota di Arab Saudi. Ledakan terjadi di pos keamanan Masjid Nabawi, Madinah, di Konsulat Jenderal Amerika Serikat di Jeddah dan di depan Masjid Syiah di Qatif. Dicatat, insiden tersebut menghilangkan nyawa empat orang dan sejumlah orang luka-luka.
Hari ini, selain ledakan yang terjadi di Solo, serangan teror juga dikabarkan terjadi di Thailand dan Australia. Di Thailand, bom meledak di pos pemeriksaan perbatasan Thepa Songkhla dan Nongchik Pattani di wilayah selatan Thailand. Dalam perisiwa nahas tersebut, seorang petugas dikabarkan meregang nyawa dan menyebabkan tiga orang lainnya cedera. Meski demikian Kepolisian masih mendalami pelaku dan jaringan terorisme di balik aksi itu.
H-1 Idul Fitri, berita ancaman teror kembali berembus dari Australia. Sebuah benda yang mencurigakan diketahui ditinggalkan di dalam mobil yang dikemudikan seorang perempuan pada Selasa siang.
“Unit penjinak bom sedang bergerak dan akan mematikan perangkat,” kata Juru Bicara Kepolisian Victoria Creina di Kawasan Nobel Park, Australia sebagaimana dikutip dari laman Herald Sun.
Dunia Kembali Melawan Teror
Serangan teror yang bisa dilancarkan dalam berbagai aksi tak hanya menyisakan duka namun juga kutukan dan reaksi keras. Yang paling terkenal, kampanye perang terhadap terorisme didengungkan Amerika Serikat (AS) pada tahun 2001 setelah pengeboman menara kembar World Trade Center (WTC) pada 11 September tersebut.
Kampanye Global War on Terror lantas mengemuka di banyak belahan dunia. Implikasinya, selain militer AS yang agresif menyerang kantung-kantung Al Qaeda saat itu, dana penanggulangan terorisme juga mengucur ke sejumlah negara yang dinilai berpotensi menjadi bibit penyebaran paham kelompok militan termasuk ke Indonesia.
Setelah serangan teroris yang dianggap paling dahsyat tersebut, serangan di beberapa tempat selama 15 tahun terakhir cenderung dilakukan secara acak dan antara satu dengan lainnya berlangsung dalam kurun waktu berselang lama.