Trotoar Risma dan Dendam Kalijodo Ahok
- PTRI New York
VIVA.co.id – Harmonisasi antarpimpinan daerah di Indonesia terusik. Penyebabnya bukan karena ada sebuah sengketa aset atau juga permasalahan kepemilikan lahan di perbatasan kedua daerah.
Tapi, semua itu terjadi hanya karena ucapan-ucapan bernada merendahkan kemampuan masing-masing dalam membenahi daerah yang mereka pimpin, yang dilontarkan dan disiarkan media massa.
Itulah yang saat ini terjadi dan dialami antara Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, dengan Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini alias Risma. Hubungan keduanya kini sedang menghangat di tengah kian memanasnya suhu persaingan pencalonan menuju Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta 2017.
Emosi Risma seketika memuncak saat Ahok mengeluarkan pernyataan yang membanding-bandingkan kondisi Surabaya dengan Kota Jakarta Selatan. Satu hal yang disorot Ahok ialah, keberhasilan Risma membangun trotoar yang ramah dan nyaman bagi warga di Surabaya.
Menurut Ahok, Surabaya tak dapat disetarakan DKI Jakarta dengan segala macam masalahnya. Dia bahkan menyebut Surabaya sesungguhnya hanya setara Jakarta Selatan.
"Jakarta beda banget sama Surabaya. Surabaya trotoarnya sudah rapi. Jakarta kok belum? Kita akan jelaskan kepada masyarakat: Surabaya itu cuma Jakarta Selatan. Gitu, lho,” ujar Ahok kepada wartawan di Balai Kota Jakarta pada Kamis, 11 Agustus 2016.
Ahok juga membuat perbandingan tata Kota Surabaya dan Jakarta Pusat. Menurutnya, hal itu lebih tepat dijadikan bahan perbandingan. Dia mengatakan, Jakarta Pusat tak kalah tertata dengan Surabaya.
"Kalau kamu lihat Jakarta Pusat, menurut kamu, kalau di tengah kota ini bagus enggak? Ya bagus. Cuma di sini doang," ujar Ahok.
Mendengar pernyataan Ahok, Risma pun meradang. Menurut Risma, pernyataan Ahok itu sama sekali tidak berdasarkan data.
"Sebetulnya, kalau Jakarta dibagi enam, luas Jakarta Selatan itu hanya 120 kilometer persegi, sedangkan Surabaya mencapai 376 kilometer persegi," kata Risma.
Tidak hanya itu, Risma menganggap, tugas Ahok lebih ringan karena dibantu dengan lima orang wali kota, dan satu orang bupati. "Lah, aku hanya wali kota sendiri, anggarannya juga kecil, yaitu Rp7,9 triliun, sedangkan Jakarta sampai Rp64 triliun. Fakta ini harus kusampaikan. Itu orang sombong. Warga Surabaya bisa marah dihina begitu. Aku kalau ngomong, ya berbasis data," ujar Risma.