Target APBN 2017 Lebih Rendah daripada 2016
- VIVA.co.id/M Ali Wafa
Pelaku pasar, nampaknya merespons positif pidato Presiden hari ini. Terlihat, semua sektor mengalami penguatan. Sebanyak 201 saham naik, 113 saham turun, dan 99 saham tidak bergerak. Penguatan terbesar dialami oleh sektor industri dasar yang melemah sebesar 2,02 persen.
Perdagangan hari ini (kemarin) membukukan transaksi sebesar Rp7,70 triliun dengan volume 8,34 miliar lembar saham. Di pasar reguler, investor asing membukukan transaksi beli bersih (net buy) Rp530 miliar.
Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo menilai, asumsi pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,3 persen dinilai cukup konservatif. "Itu menurut kami adalah cukup konservatif," kata dia saat ditemui di Gedung DPR, Selasa, 16 Agustus 2016.
Menurut Agus, angka tersebut cukup relevan jika dilihat dari titik inflasi yang berada di kisaran empat persen dan angka defisit transaksi berjalan yang akan mencapai 2,5 persen hingga akhir tahun 2016. Ditambah, implementasi kebijakan pengampunan pajak yang akan mendatangkan dana repatriasi.
"Kita meyakini dana yang Akan banyak masuk itu di kuartal akhir 2016 dan awal 2017. Dan Dana itu kalau banyak dana yang masuk itu akan cukup membantu pertumbuhan ekonomi," tuturnya.
Di samping itu, Agus juga menyambut baik pidato yang disampaikan presiden di mana akan memberikan perbaikan infrastruktur, SDM, serta meneruskan debirokratisasi deregulasi untuk mengurangi kesenjangan kemiskinan.
"Ungkapan bahwa akan ada perbaikan infrastruktur. Dan infrastruktur itu bukan hanya fisik tetapi juga non fisik," katanya.
Selain itu, fiskal akan menjadi sehat dan kredibel dengan APBN yang akan dilarikan ke program prioritas (money follow program). "Itu menunjukkan efisiensi," ujarnya.
Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Trikasi Lembong mengungkapkan, pertumbuhan ekonomi sebesar 5,3 persen di 2017 yang bergantung kepada investasi merupakan suatu proses eliminasi.
Menurutnya, ekonomi hanya mempunyai empat komponen, yaitu konsumsi, investasi, belanja pemerintah, dan ekspor.
"Kenapa bergantung, ini kan karena proses eliminasi. Salah satu komponennya (ekspor) mengalami kelesuan, sehingga pemerintah sedang dihadapkan pada tantangan terhadap anggaran dan harus melakukan penghematan," kata Thomas Lembong di kantor Direktorat Jenderal Pajak, Jakarta, Selasa, 16 Agustus 2016.
Adapun strategis khusus yang fundamental, menurut Lembong, di mana pemerintah harus terus melakukan reformasiekonomi. Strategi tersebut pun dianggap memiliki sisi positif terutama untuk sentimen investor.
Â