Ide Baru, Anggota DPR Disekolahkan
- VivaNews/ Nurcholis Lubis
"Dengan biaya yang sangat minim kita ingin meningkatkan kualitas anggota Dewan," kata Ade.
Ade mengemukakan, sekolah itu hanya khusus untuk para politikus yang sudah di DPR, termasuk mereka yang sudah lama menjadi anggota Dewan. Karena itu, pendidikannya berbeda dengan calon legislatif di partai politik.
"Anggota DPR kan belum tentu mengerti (pendidikan politik) juga," ujarnya.
Ade mengakui, setiap parpol memiliki cara dan metode sendiri dalam menyaring kader berkualitas baik. Namun, dia tetap yakin sekolah parlemen tidak tumpang tindih dengan pendidikan parpol itu.
"Yang penting (di parpol) itu ketegasan dalam pola rekrutmen dan sistem rekrutmen yang baik," kata Ade.
Pro Kontra
Segera, setelah wacana itu tersiarkan ke publik, beragam tanggapan atau komentar bermunculan. Ada yang pro, ada pula yang kontra.
Anggota DPR dari Fraksi Partai Gerindra Supratman Andi Agtas menilai positif usulan Ade tersebut. Menurutnya, sekolah itu bisa bermanfaat baik untuk anggota maupun tenaga ahli.
"Itu dalam rangka upaya bagaimana peningkatan kapasitas, baik tenaga ahli maupun kemungkinan itu (untuk) anggota," kata Supratman ketika ditemui di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin, 29 Agustus 2016.
Mengenai anggapan bahwa pendidikan politik itu cukup dilakukan di internal partai saja, Supratman menilai hal itu berbeda. Sekolah parlemen menurutnya punya isi yang lain.
"Jadi itu (pendidikan) buat di partai politik itu lain. Tetapi buat kita, namanya bersekolah itu, menuntut ilmu sampai kapanpun harus tetap dilakukan," ujar Supratman.
Karena itu, dia tidak keberatan dengan usulan itu. Alasannya, sekolah itu berguna untuk memaksimalkan segala sumber daya yang ada di lingkungan parlemen.
"Ya kalau saya sih setuju-setuju saja. Kalau namanya pendidikan saya sampai hari ini ingin sekolah lagi. Jadi penyiapan sarana infrastruktur itu dalam rangka memperbaiki tata kelola perlemen nanti yang akan datang, sehingga sumber dayanya bisa maksimal," kata Supratman.
Ketua Fraksi PKS, Jazuli Juwaini, juga menghargai semangat Ade untuk mendirikan sekolah parlemen demi meningkatkan kualitas anggota DPR. Khususnya sebagai upaya peningkatan (upgrading) kualitas anggota DPR dalam melaksanakan fungsi legislasi, pengawasan, dan anggaran.