Ada Apa dengan Gojek?

Ilustrasi/Pengendara ojek online
Sumber :
  • Twitter/@ResJaksel

Merampas hak pengemudi

img_title Aksi Mogok Para Sopir Angkot Menjalar ke Bandung

Salah satu pengemudi yang ikut berdemo di Kemang, Agus Haryadi, mengatakan jika sistem performa terus dilanjutkan, secara tak langsung manajemen merampas bonus, yang menjadi hak pengemudi. Dia mengatakan, biasanya bonus yang diterima bisa mencapai Rp140 ribu bila performa di atas 50 persen, sedangkan dalam aturan, bila performa turun bonus tidak akan diberikan. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Kami ada penilaian performa, cuma ini tak jelas patokannya. Masa kami lagi antar penumpang performa dinilai turun. Kan ngaco itu. Bonus itu penting buat kami, dari bonus kami bisa menuhin kehidupan sehari-hari dari mulai servis motor sampai yang lain," ujar Agus. 

img_title Kota Tangerang Tak Kuasa Melarang Gojek

Sistem performa memang menjadi ujian bagi pengemudi. Dengan sistem tersebut, saat performa yang didapat hanya 30 persen, maka konsekuensinya pengemudi mendapat suspend, ditangguhkan akunnya, untuk beberapa saat tak bisa menarik layanan. 

Pengemudi lain, Mahmud ikut 'berteriak'. Dia menilai sistem bonus berbasis performa membuat kawan-kawannya tak nyaman. Sebab meski pengemudi mati-matian seharian menerima order, tapi tak menjamin performa mereka bakal moncer. 

img_title Kapolres Sampai Jadi Sopir akibat Angkot Mogok di Malang

Mahmud mengatakan, kelemahan aturan sistem performa yaitu pengemudi dilarang membatalkan order. Jika ketahuan membatalkan order saat layanan berlangsung, maka secara otomatis mempengaruhi performa. 

Masalahnya, kata dia, kerap kali ada orderan fiktif. Kondisi itu diakui pengemudi lainnya yang tak mau ditulis namanya. Pengemudi ini mengatakan, kawannya sesama pengemudi Gojek merasakan 'derita' serupa. Mereka tidak memenuhi ambang batas nilai performa untuk mendapatkan bonus bukan lantaran malas atau kesalahan mereka.

Sang pengemudi berdalih, kendala yang ditemui sehingga tidak mencapai performa yang diinginkan Gojek karena order fiktif. Saat ada order, mereka setujui, namun saat dihubungi nomor tersebut tidak aktif. Dalam hal demikian, pengemudi dianggap membatalkan order. Padahal kondisinya tidak demikian. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Selain itu, pengemudi memang mengakui tak mengambil orderan lantaran tujuannya yang jauh. Begitu tak mengambil order itu, maka mereka diganjar pengurangan performa. 

“Kenapa kita tidak memilih yang jauh, karena waktu habis di jalan. Pertama macet, kedua jarak. Jadi orderan sehari dikit,” kata dia.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut