Kepungan Bencana di Tahun 2016
- ANTARA FOTO/Wahyu Putro A
Di pertengahan tahun, banjir hebat juga terjadi di Kota Bekasi pada 21 April 2016. Kemudian pada Juli 2016, giliran Pandeglang diterjang banjir bandang yang membuat 988 jiwa terdampak.
Pada September 2016, Kabupaten Garut diterjang banjir bandang hebat yang menyebabkan 34 orang meninggal dunia, 35 luka-luka dan 6.361 orang mengungsi. Selanjutnya, 10 Oktober, giliran Kabupaten Pangandaran diterjang banjir.
Di penghujung tahun 2016, tepatnya 21 Desember 2016, Kota Bima, Nusa Tenggara Barat, diterjang banjir bandang. Tercatat 105.754 jiwa terdampak dan puluhan ribu rumah rusak. Dampak ekonomi yang ditimbulkan dari bencana banjir di Bima ditaksir mencapai Rp1 triliun lebih.
Mitigasi Bencana
Di luar bencana banjir, gempa bumi berkekuatan 6,5 skala richter yang mengguncang tiga kabupaten di Nanggroe Aceh Darussalam, yakni Pidie Jaya, Bireun dan Pidie, pada 7 Desember 2016, menjadi duka mendalam di penghujung tahun.
Data BNPB menyebutkan 104 orang dilaporkan meninggal dunia akibat gempa Aceh, 267 orang luka berat, 127 luka ringan dan 91,267 orang mengungsi. Gempa ini juga merusak ribuan rumah dengan 2.357 rusak berat, 5.291 rusak sedang dan 11.832 rusak ringan. Kerugian materil dari gempa Aceh ditaksir lebih dari Rp3,5 triliun.
Untuk mencegah terjadinya bencana, berbagai upaya dilakukan pemerintah. Mulai dari pra bencana, tanggap darurat maupun pasca bencana. Tahapan pra bencana meliputi kegiatan yang dilakukan berupa pencegahan, kesiapsiagaan, peningkatan kapasitas, dan sosialisasi wilayah rawan bencana.
"Kegiatan pra bencana menjadi lebih prioritas, baik yang langsung menyentuh masyarakat maupun melalui jalur kelembangaan," ujar Sutopo.
Kesiapsiagaan dan peningkatan kapasitas lanjut Sutopo, termasuk penguatan BPBD, Pemda, relawan dan masyarakat dalam menghadapi bencana. Disamping itu, penguatan manajemen logistik dan peralatan di daerah rawan bencana, serta mengembangkan desa tangguh bencana.
"Secara umum tingkat kesiapsiagaan masyarakat Indonesia dalam menghadapi bencana terus meningkat dibandingkan sebelumnya. Pengetahuan bencana meningkat signifikan. Tapi pengetahuan ini belum meningkat menjadi sikap dan perilaku," imbuhnya.
Dari aspek tanggap darurat, BNPB melakukan penanganan darurat bencana secara cepat dan tepat, serta melakukan kajian cepat terkait bencana. Kemudian, melalui pusat pengendalian operasi, BNPB memantau bencana yang terjadi di seluruh Indonesia, untuk memetakan potensi bencana berikutnya dan proses evakuasi.