Kepungan Bencana di Tahun 2016
- ANTARA FOTO/Wahyu Putro A
"Gempa bumi tidak dapat diprediksikan secara pasti dimana, berapa besar dan kapan. Namun diprediksikan gempa terjadi di daerah di Indonesia khususnya di jalur subduksi di laut dan jalur sesar di darat," kata dia.
Ia menambahkan, potensi tsunami juga masih bisa terjadi, meskipun sangat tergantung dari besaran gempa bumi dan lokasinya. Dalam artian, jika gempa lebih dari 7 skala richter, dengan kedalaman kurang dari 20 kilometer dan berada di jalur subduksi maka potensi tsunami bisa terjadi. "Tapi kan sistem peringatan dini tsunami sudah lebih baik dibandingkan sebelumnya," ujar Sutopo.
Tawaran Jepang
Disadari, Indonesia berada di jalur Ring of Fire atau Cincin Api Pasifik membuatnya kerap mengalami gempa bumi dan letusan gunung berapi. Hal tersebut menjadi fokus pemerintah Indonesia, bagaimana caranya agar Indonesia sigap dalam mencegah terjadinya kerusakan fatal akibat bencana alam.
Dalam sambutan simposium Hari Tsunami Dunia (World Tsunami Awarness Day 2016), anggota Parlemen Majelis Rendah Jepang, Fukui Teru, menyatakan Indonesia dan Jepang dinilai memiliki kemiripan tipe bencana alam, yaitu kerap terjadi gempa, gunung api meletus, dan beberapa kali tsunami.
Untuk itu, diperlukan adanya kesiagaan dari pemerintah dan masyarakatnya dalam mengantisipasi datangnya bencana itu.
"Kita harus bisa memberlakukan kebersamaan, teknologi, dan kerja sama dalam menghadapi ancaman tsunami," ujarnya di hadapan peserta simposium, Kamis, 15 Desember 2016 di Jakarta.
"Kita harus lebih waspada. Jepang ingin membantu Indonesia dalam pencegahan itu, karena kami melihat Indonesia sangat rentan gempa dan tsunami. Maka dari itu, saya ingin berbagi di sini, menyakurkan bantuan dan kerja sama, bagaimana bencana itu bisa kami antisipasi," lanjutnya.
Pengalaman menghadapi dahsyatnya bencana dan kesadaran akan ancaman gempa, membuat pemerintah dan masyarakat negeri matahari terbit itu melakukan persiapan matang untuk menghadapinya. Hampir setiap hari, kata Fukui, Jepang diguncang gempa mulai dari skala sangat rendah hingga skala tertinggi, terakhir adalah gempa Fukushima.
Sedangkan di tiap tahunnya, negeri bunga sakura ini dihantam badai topan. Meski memiliki lebih dari 100 gunung berapi, Jepang terus mengembangkan teknologinya untuk mempersiapkan datangnya bencana.