Bersiap Lihat Debat Seru Agus, Ahok dan Anies
- ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A
Dengan melihat langsung ke lapangan, Agus yakin bisa mendapat potret utuh yang bisa dipakai untuk melengkapi program visi-misinya sebagai calon gubernur DKI.
Segendang sepenarian. Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat juga mengaku tidak mempunyai persiapan khusus menjelang debat. Namun, dia mengklaim telah memiliki modal menghadapi debat, yaitu pengalamannya mengelola pemerintahan dan anggaran. Pengalaman tersebut didapat saat Djarot menjadi wali kota Blitar, anggota DPRD Jawa Timur, dan anggota DPR RI.
Bukan hanya itu. Djarot pun berdiskusi dengan koleganya, calon gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, untuk pembagian tugas dalam debat nanti. Dengan demikian, masing-masing mempunyai tugas sendiri dalam pemaparan program. "Sehingga kami enggak cuma berwacana, ngomong-ngomong doang. Tapi apa kerjanya, apa hasilnya, bagaimana progresnya," ujarnya, di Jakarta, Rabu, 11 Januari 2017.
Langkah diskusi juga dilakukan calon Gubernur DKI Jakarta nomor urut tiga Anies Baswedan, untuk persiapan debat. Dia mengundang pelaku lapangan yang biasa bergelut menangani masalah Jakarta untuk memberi pelajaran. "Persiapan debat belajar ya. Diskusi, baca," kata Anies, Kamis, 5 Januari 2017.
Untuk debat, Anies mempersiapkan diri secara matang. Sebab, debat mempengaruhi penilaian warga terhadap suatu calon. "Karena di debat itu menunjukkan respons. Bukan sekadar jawabannya, tapi respons saat menghadapi pertanyaan yang tidak diduga-duga," katanya.
Debat Pilkada ini, menurut Direktur Populi Center Usep Saeful Ahyar, akan menjadi kontestasi yang sehat dan rasional antar pasangan calon, dengan beradu ide dan gagasan untuk Jakarta lima tahun ke depan.
Antusiasme warga untuk menonton debat pasangan calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta cukup tinggi. Berdasarkan data survei, kata Usep, "Dilihat dari antusiasme masyarakat untuk menonton debat itu tinggi, sekitar 70 persen.”
Acara debat calon pemimpin Ibukota itu akan dijaga kepolisian. Petugas membatasi jumlah pendukung bagi setiap pasangan calon. "Mungkin hanya 100 orang per pasangan yang boleh masuk. Jadi total ada 300 orang yang boleh masuk," kata Kapolda Metro Jaya Inspektur Jenderal Polisi M Iriawan kepada wartawan, di Mapolda Metro Jaya, Rabu, 11 Januari 2017.