Bom Cicendo Bandung, Teror Gagal Jaringan Lama
- ANTARA FOTO/Novrian Arbi
Tito memastikan bahwa Cicendo kini aman dan polisi sudah menyita barang bukti berupa bom panci yang berisi paku. Bom itu disebutnya berdaya ledak rendah. Tito tak membantah adanya pelaku lain yangberhasil kabur. Namun dipastikannya, polisi sudah mengantungi identitas si pelaku lolos.
“Tak ada korban dari masyarakat,” kata Tito, mantan Bos Densus 88 tersebut.
Jaringan Pembunuh Intan
Kendatipun aksi terorisme Cicendo, Bandung pada Senin pagi, gagal makan korban tak berdosa, namun patut menjadi catatan dan jejak yang harus harus diendus Densus 88 dalam memberantas terorisme. Jaringan pelaku bom Cicendo, JAD yang disebutkan Kapolri adalah jaringan teroris yang baru didirikan pada tahun 2015. Namun pengaruhnya tak bisa dianggap enteng mengingat jaringan ini disokong oleh Negara Islam Irak dan Al-Syam atau ISIS.
JAD adalah organisasi teroris yang sudah diumumkan oleh Amerika Serikat sebagai organisasi teroris berbasis di Indonesia yang berafiliasi dengan ISIS. Pada tanggal 10 Januari tahun 2017, situs resmi Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat mengumumkan bahwa jaringan tersebut adalah organisasi teroris yang harus diwaspadai.
Pengumuman itu dirilis tak lama setelah adanya aksi terorisme di Indonesia pada akhir tahun 2016 termasuk bom yang meledak di depan Gereja Oikumene, Samarinda, Kalimantan Timur. JAD disebutkan adalah jaringan teroris global yang mendapatkan dukungan finansial dari ISIS dan menyiapkan anggota-anggotanya menjadi teroris ISIS.
Jaringan ini adalah gabungan sejumlah radikal yang pernah hidup di Indonesia dan Asia antara lain Mujahid Indonesia Timur, Mujahid Indonesia Barat, Hizbut Tahrir Indonesia dan Jamaah Islamiyah. Jaringan ini dipimpin gembong teroris Bahrumsyahdan dan Aman Abdurrahman. Belakangan, Abdurrahman diketahui sedang menjalani hukuman kurungan.
Jaringan teroris JAD juga disebutkan dalam serangan bom di halam Gereja Oikumene, Samarinda yang menyebabkan gadis cilik berusia tiga tahun, Intan Marbun menjadi korban. Ledakan bom molotov terjadi pada Minggu pagi, 13 November 2016 dan melukai sejumlah anak yang sedang bermain di halam gereja. Intan, salah satu anak yang mengalami luka bakar parah akhirnya mengembuskan napas terakhir pada Senin dini hari, 14 November 2016.