Bom Cicendo Bandung, Teror Gagal Jaringan Lama
- ANTARA FOTO/Novrian Arbi
Kepolisian pada saat itu mengatakan bahwa pelaku yang bertanggung jawab atas ledakan bom di Gereja Oikumene itu tak lain adalah JAD, jaringan pendukung ISIS di Indonesia. Aksi terorisme ini dikecam publik Indonesia dan dunia pada saat itu. Simpati “Doa untuk Intan” mengalir selama beberapa waktu.
Motif Pembebasan Tahanan
Aksi terorisme yang menyentak Cicendo pada Senin terus ditelusuri polisi. Dugaan awal sebagaimana tuntutan yang disebut polisi disampaikan pelaku adalah kesal dengan banyaknya sesama pelaku teror yang terus ditangkapi polisi dan kini banyak ditahan oleh Densus 88.
Pelaku yang berasal dari jaringan lama itu kata Irjen Pol Anton Charliyan menuntut agar tahanan Densus, dibebaskan.
“Motif ingin membebaskan pelaku yang ada di Densus,” kata Anton Charliyan di Cicendo, Bandung.
Motif ingin menuntut pembebasan ini sekilas tak berbeda dengan tuntutan aksi terorisme di Cicendo lebih dari tiga dekade lalu. Seakan déjà vu ‘kejadian mirip berulang’ seperti yang terjadi pada tahun 1981 kembali mengingatkan publik. Di Cicendo saat itu, terjadi penyerangan kantor aparat yang makan korban.
Pada bulan Maret tahun 1981 terjadi penyerangan terhadap Kantor Kosekta 65 di Kawasan Cicendo. Setidaknya 14 orang yang disebut-sebut bagian kelompok Jemaah Imran menuntut pembebasan anggotanya yang ditahan di Polsek Cicendo. Dalam penyerbuan itu, selain menyerang dan membunuh polisi, terjadi pencurian senjata-senjata api milik Kepolisian.
Jemaah Imran diketahui aliran yang cukup berkembang di Cimahi dan Bandung, Jawa Barat pada tahun 1980. Peristiwa Cicendo ini makin terkenal setelah senjata yang dicuri pada saat itu teridentifikasi digunakan untuk pembajakan pesawat pertama yakni di maskapai Garuda Indonesia 206 pada 31 Maret tahun 1981. Peristiwa terorisme itu dikenal dengan nama Peristiwa Woyla.