Integrasi Tarif Tol, Solusi atau Merugikan?
- VIVA.co.id/Mohammad Yudha Prasetya
"Saya dapat laporan dari teman saya yang rumahnya di sekitaran Joglo, Jakarta Barat. Dia bilang biasanya tarif tol yang dilaluinya itu hanya Rp2.500, tapi sekarang naik sampai Rp5.000. Bahkan katanya ada juga yang naik sampai Rp7.000. Nah itu kan jelas sangat merugikan," kata Arista saat dihubungi VIVA.co.id, Kamis 13 April 2017.
Selain itu, dia menyoroti kemampuan operator jalan tol dalam mengurai kepadatan kendaraan di pintu-pintu tol. "Masalah kesiapan pintu tolnya itu kan juga masih kurang optimal, sehingga saat ini antrean panjang juga tetap terjadi, hanya berpindah saja ke exit tol masing-masing," katanya.
Pengamat kebijakan publik, Agus Pambagio, menambahkan, penerapan integrasi tarif baru jalur tol Jakarta-Tangerang-Merak sama saja dengan kenaikan tarif. Dia menolak adanya kenaikan tarif bagi pengguna jalan tol berjarak pendek.
"Karena, kalau saya melihat aturan itu enggak betul. Harusnya, ini kan hanya perubahan sistem pembayaran dari misalnya dua gerbang jadi satu gerbang. Jadi, tidak harus ada kenaikan tarif sebenarnya," kata Agus saat dihubungi VIVA.co.id, Kamis 13 April 2017.
Dia juga mendesak Jasa Marga transparan dalam perhitungan tarif tol dengan jarak tempuh kendaraan. Berapa tarif yang seharusnya dibayar oleh pengendara jarak dekat atau pengendara jarak jauh, sesuai jarak tempuh.
Dia juga menilai integrasi jalur tol Jakarta-Tangerang-Merak dengan menghilangkan gerbang tol Karang Tengah kurang efisien untuk mengurai kepadatan kendaraan di jalan tol. Sebab, dengan makin banyaknya volume kendaraan, hal itu justru dinilai hanya akan memindahkan antrean dari GT Karang Tengah, ke masing-masing pintu tol keluar yang menjadi tujuan dari para pengguna jalan tol tersebut.
Karena itu, Agus mengaku telah lama mengusulkan, agar setiap transaksi di gerbang tol sudah harus menggunakan sistem on board unit, atau OBU, agar setiap transaksi lebih efisien dan antrean panjang dapat dihindari.
"Dari awal, saya katakan bahwa transaksi jalan tol itu seharusnya enggak ada lagi yang pakai uang tunai. Semua harus pakai kartu dan OBU. Jadi, mobil enggak perlu berhenti, jalan saja terus. Teknologi semacam itu juga akan membantu proses operatornya," kata Agus.