Siapa Layak Hadapi Teroris, TNI atau Polri?

Ilustrasi-Penanganan teroris di Indonesia oleh BNPT
Sumber :
  • VIVAnews/Ikhwan Yanuar

Sebab dalam UU 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, TNI masih dilibatkan dalam status Bawah Kendali Operasi (BKO) Polri.

img_title Lihat Rumah Warga Korban NTT Hancur, Jokowi Langsung Titip Pesan ke Bupati Setempat

Karena itu, Satgultor 81 Kopassus, Denjaka dan Den Bravo tak memiliki kewenangan lebih untuk penindakan. Hal itulah yang ditunjukkan dalam penanganan kelompok teror Mujahidin Indonesia Timur (MIT) di Poso dalam Operasi Tinombala.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Perburuan kelompok ini, tetap di bawah kendali Polri yang mengkoordinir tim gabungan dari personel TNI dan Polri.

img_title Warga Korban Gempa Hingga Kepala Adat Temui Jokowi yang Tiba Malam Hari di Pulau Palue NTT

FOTO: Tim Satuan Tugas Operasi Tinombala untuk perburuan kelompok Mujahidin Indonesia Timur di Poso

Atas itu, Wiranto menekankan bahwa ke depan pelibatan TNI haruslah secara utuh atau dengan kata lain tidak ada lagi istilah BKO, yang menunggu diminta dan membutuhkan administrasi yang rumit.

img_title Jokowi ke Pulau Palue NTT, Berencana Bermalam Bareng Warga Pengungsi Gempa

"Kita minta realistis saja dalam melawan terorisme. Yang rugi dan menjadi korban itu rakyat. Maka kita bikin UU bukan soal posisi lembaga, tapi kepentingan rakyat," kata Wiranto di DPR.

Wiranto juga meyakini, dengan pelibatan TNI ke depannya dalam penanganan terorisme, maka Indonesia sedikit lebih maju dalam perlawanan teroris, setidaknya menyamai negara lain. "Negara lain sudah memperkuat UU Terorismenya. Kita juga harus memperkuat, tak bisa kita hadapi dengan UU yang lemah," kata Wiranto.

Teroris Menjadi-jadi

Terlepas itu, persoalan terorisme di Indonesia memang menjadi masalah paling pelik saat ini. Sejak 2002, ketika Bom Bali mengguncang dunia, nama Indonesia sudah menjadi sorotan sebagai salah satu sarang kelompok radikal.

Dengan penduduk mayoritas muslim mencapai 80 persen, Indonesia disebut-sebut sebagai negara paling tepat sebagai pemasok militan untuk aksi terorisme.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Peran Densus 88 Antiteror untuk menanggulangi masalah teroris bisa dipastikan tidak akan sanggup menyapu bersih perkara ini. Apalagi, era kekinian teroris kini makin canggih, meluas dan menjalar ke sejumlah wilayah. Beberapa diantara kelompok teror ini sudah bisa terdata, namun banyak lagi yang justru membentuk sel baru.

Sehingga beberapa pergerakan mereka sulit ditebak. Tiba-tiba muncul ledakan dan aksi teror. Misal pada kasus Bom Thamrin tahun 2016. Tanpa diduga empat teroris membawa bom dan senjata meringsek masuk ke tengah ibu kota.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut