London Bridge, Serangan Teror Jelang Pemilu
- Reuters/Peter Nicholls
VIVA.co.id – Denyut kehidupan publik Inggris menjelang pemilu tercederai rangkaian aksi teror. Hanya selisih dua pekan setelah ledakan bom di Manchester, negara aristokrat itu kembali jadi sasaran serangan.
Partai-partai Inggris sepertinya harus memiliki kesabaran lebih. Persiapan menghadapi pemilu terus terganggu serangan teroris. Hanya dalam tiga bulan, tiga serangan terjadi di negara tersebut. Maret lalu, sebuah mobil menabrak kerumunan pejalan kaki di jembatan Westminster.
Mobil yang dibawa secara ugal-ugalan itu lalu menerobos barikade pengamanan di gedung Parlemen di Westminster, pengemudinya turun dan sempat menusuk seorang polisi hingga tewas. Pelaku juga akhirnya tewas ditembak. Aksi itu menewaskan lima warga Inggris.
Lalu pada pertengahan Mei, konser Ariane Grande di Manchester Arena yang dipenuhi remaja dan anak-anak berakhir memilukan setelah sebuah bom meledak di depan pintu masuk. Sebanyak 22 orang tewas, termasuk anak-anak, dan puluhan lainnya luka-luka. Kelompok ISIS menyatakan bertanggung jawab atas aksi tersebut. Duka yang belum usai kembali terkoyak ketika Sabtu malam, 3 Juni 2017, sekitar pukul 22.00 waktu setempat London ikut diteror.
Sebuah mobil van berwarna putih menyeruak kerumunan orang di London Bridge. Dengan menggunakan pisau, pelaku yang berjumlah tiga orang lalu menyerang orang-orang di Borough Market. Polisi bergerak cepat, paramedis juga turun tangan. Tiga pelaku berhasil dilumpuhkan.
Kepolisian Metropolitan Inggris mengatakan, total korban tewas akibat aksi ini menjadi tujuh orang termasuk pelaku, sementara korban luka akibat penusukan mencapai 48 orang. "Saya khawatir diantara mereka berada dalam kondisi kritis," ujar Wali Kota London, Sadiq Khan seperti dikutip dari The Guardian, 4 Juni 2017.
Pemilu Tak Ditunda
Rangkaian serangan ini terjadi berbarengan dengan masa kampanye partai politik di Inggris untuk menghadapi pemilu. Dalam hitungan hari, tepatnya 8 Juni 2017, negara kerajaan ini akan melaksanakan pemilihan umum atau pemilu, yang memberi kesempatan pada warga Inggris untuk memilih siapa yang paling layak duduk di Parlemen dan menjalankan negara ini.
Pemilihan ini juga akan menentukan, siapa yang paling berhak menjadi Perdana Menteri Inggris. Pemimpin politik dari partai yang paling banyak perwakilannya di Parlemen, maka akan diminta oleh Ratu Inggris untuk menjadi Perdana Menteri.