Menyoal Sekolah 8 Jam Sehari Selama 5 Hari
- VivaNews/ Nurcholis Lubis
Dia mengakui, dengan penambahan menjadi delapan jam sehari, bisa menambah penguatan pendidikan karakter dari para murid. Namun, tidak bisa diberlakukan untuk semua sekolah.
Zainut mengusulkan, kebijakan itu tidak diberlakukan kepada seluruh sekolah. Ada kriteria tertentu pada sekolah yang bisa menerapkan itu.
"Apakah semua sekolah memiliki sarana pendukung untuk terciptanya sebuah proses pendidikan yang baik? Seperti sarana untuk ibadah, olahraga, laboratorium, tempat bermain, dan istirahat yang nyaman bagi pelajar, serta kantin yang sehat dan layak. Faktor lain yang tidak kalah penting adalah tersedianya jumlah pengajar yang cukup," katanya.
Namun, apabila fasilitas-fasilitas itu tidak bisa terpenuhi, dia juga tidak yakin kebijakan Mendikbud Muhadjir itu bisa berjalan baik. "Justru, yang terjadi adalah anak didik akan menjadi jemu dan stres," lanjutnya.
MUI lebih sepakat kalau kebijakan itu hanya untuk sekolah tertentu. Dengan kriteria yang bisa memenuhi standar dan dilakukan secara bertahap, tidak masif sekaligus.
"Misalnya, hanya diberlakukan bagi sekolah yang sudah memiliki sarana pendukung yang memadai. Sedangkan bagi sekolah yang belum memiliki sarana pendukung, tidak atau belum diwajibkan. Serta kebijakan tersebut ,tidak diberlakukan untuk semua daerah dengan tujuan untuk menghormati nilai-nilai kearifan lokal," kata Zainut.
Maka dari itu, pemerintah daerah juga dilibatkan dalam kebijakan ini. Pemerintah pusat, juga bisa menghargai kearifan lokal masing-masing daerah.
"Jadi, daerah diberikan opsi untuk mengikuti program pendidikan dari pemerintah, juga diberikan hak untuk menyelenggarakan pendidikan sebagaimana yang selama ini sudah berjalan di masyarakat," katanya.
Berikutnya, tidak komprehensif>>>
Tidak komprehensif
Protes juga disampaikan oleh unsur dari Nahdlatul Ulama. Dosen STAI Darussalam Pondok Pesantren Miftahul Mubtadiin Krempyang Tanjunganom Nganjuk Jawa Timur, Toha Ma'sum, dilansir dari situs nu.or.id, menuliskan catatannya.
Dia mengakui, Mendikbud Muhadjir dalam mengeluarkan kebijakan itu, tentu memiliki pertimbangan-pertimbangan. Antara lain, pertama, bahwa dengan masuk sekolah lima hari, maka dapat menambah waktu untuk keluarga bagi siswa.
Kedua, dengan sekolah hanya lima hari, guru dapat tambahan waktu untuk keluarga. Ketiga, dapat menambah waktu untuk meramaikan dunia wisata di negeri ini. Keempat, dapat mengurangi anggaran, baik bagi pemerintah, pihak sekolah maupun masyarakat. Dan, kelima, siswa atau anak dapat waktu lebih untuk mengembangkan diri, dan atau menambah kegiatan ketrampilan lainnya.