Kekurangan Garam di Negeri Pantai

Produksi Garam di Indonesia Turun.
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Saiful Bahri

Tony menjelaskan, ada salah persepsi dari masyarakat mengenai hal tersebut. Sebab, produksi garam tidak selalu dilakukan di pantai atau daerah pesisir. Tetapi juga membutuhkan lahan yang luas.

img_title Kejagung: Tersangka Impor Garam Bertambah, Total 5 Orang

"Produksi berdasarkan luas lahan bukan pantai," jelasnya. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dia pun mengatakan, saat ini luas lahan garam yang tersedia tidak lah cukup untuk memenuhi kebutuhan nasional. Yaitu hanya sekitar 20 hektare. 

img_title Susi Pudjiastuti Bikin Konten HUT Pangandaran saat Diperiksa Kejaksaan

Karena itu, perhatian pemerintah sangat dibutuhkan untuk menutup defisit yang terjadi. Apalagi, kebutuhan garam terus meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk dan tumbuhnya industri yang menggunakan bahan baku garam. 

"Solusinya, perluas lahan pergaraman, kedua, buka keran impor," tegasnya. 

img_title Kejagung Geledah 4 Pabrik di Sejumlah Kota Terkait Korupsi Impor Garam

Telat impor

Meskipun mengapresiasi langkah impor garam, mantan Sekretaris Kementerian Badan Usaha Milik Negara Said Didu berpendapat, pemerintah terlambat melakukan upaya tersebut. Sebab, kelangkaan ini telah merugikan konsumen, industri, serta memberikan peluang importir menikmati untung besar.

"Sebenarnya, keputusan impor garam sudah bisa diambil minimal enam bulan sebelum kejadian, karena produksi tahun ini untuk konsumsi tahun depan. Karena diperkirakan produksi 2017 belum kembali normal karena cuaca,” katanya kepada VIVA.co.id, Senin 31 Juli 2017. 

Dia pun menilai, ada beberapa catatan yang perlu digarisbawahi oleh pemerintah terkait dengan persoalan krisis garam saat ini. Pertama, adalah bagaimana memfokuskan diri pada target swasembada garam konsumsi dan melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan kualitas garam rakyat.

Sebab, biaya untuk produksi garam di laut menggunakan teknologi jauh lebih mahal dibandingkan membuka keran impor. Hal tersebut yang membuat teknologi garam tidak ekonomis bagi petani dan juga konsumen.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Kualitas garam produksi dari laut dengan teknologi konvensional tidak bisa untuk garam industri. Hanya cocok untuk garam konsumsi. Walau teknologi produksi garam industri dari laut bisa dilakukan, tapi biayanya lebih mahal,” kata Said.

Masalah ini semakin diperparah, dengan produksi garam petani kini tidak hanya diperuntukan untuk konsumsi masyarakat, melainkan juga untuk kebutuhan industri. Karena, sejumlah sektor industri kecil menengah seperti produksi ikan asin dan telur asin membutuhkan komoditas tersebut untuk bahan baku. 

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut