Sawit Ditukar Sukhoi
- REUTERS/Pascal Rossignol
Ketegangan AS dan Rusia mulai meningkat sejak dua tahun lalu. Berawal dari campur tangan Rusia dalam konflik Krimea-Ukraina. PBB dan AS menganggap pemerintah Rusia menunjukkan keberpihakannya pada Krimea dan memaksa Ukraina pergi dengan menggunakan kekuatan militernya. PBB dan pemerintah AS yang kesal dengan ulah Rusia menjatuhkan sanksi ekonomi.
Kekesalan kedua AS dan PBB adalah ketika Rusia juga menyatakan ingin ikut andil menjaga perdamaian di Suriah. Tapi alih-alih mendukung Koalisi Arab yang didukung Amerika Serikat, Rusia malah memutuskan berada di posisi yang berseberangan. Putin memilih berdiri bersama dengan Presiden Suriah Bashar al Assad yang juga mendapat dukungan dari Iran.
Barat kembali menjatuhkan sanksi pada Rusia karena menurut mereka manuver Rusia di Suriah malah menimbulkan kekacauan. Akibat sanksi embargo yang diberlakukan AS dan PBB, Rusia mulai mencari sumber pangan alternatif, dan pemerintah Indonesia masuk pada saat yang tepat.
Rusia adalah pengimpor minyak sawit terbesar di dunia dan minyak sawit Indonesia juga menjadi primadona di Rusia. Selain sawit, produk ekspor Indonesia ke Rusia adalah ikan, cokelat, mentega, teh, dan kopi. Sedangkan produk yang diimpor Indonesia dari Rusia mencakup alat utama sistem persenjataan (alutsista), besi baja, pupuk, logam, karet sintetis, dan aluminium.
Ekspor minyak sawit mentah dari Indonesia ke Rusia pada tahun 2015 mencapai US$480 juta, atau sekitar 50 persen dari total perdagangan bilateral senilai US$1,98 miliar untuk tahun yang sama. Berdasarkan data Badan Koordinasi dan Penanaman Modal (BKPM), Rusia termasuk salah satu investor asing cukup besar di Indonesia dengan total investasi sebesar US$1,01 juta pada 2015.
Sementara Indonesia, meski mendapat tawaran untuk membeli alutsista dari negara lain, sudah kadung kepincut dengan alutsista buatan Rusia. Kepala Badan Ekspor Persenjataan Rusia, Alexander Fomin, mengungkapkan bahwa Rusia tetap melanjutkan penjualan alutsista ke Indonesia, termasuk amunisi. “Indonesia tertarik atas kapal selam dan jet tempur buatan Rusia, walaupun ada juga tawaran dari mitra-mitra lain seperti AS dan China,” kata Fomin, seperti dikutip dari Reuters tahun lalu.