Sawit Ditukar Sukhoi
- REUTERS/Pascal Rossignol
Sudah Dilakukan Sejak 19 Tahun Lalu
Isu tukar guling sawit dan Sukhoi kini menjadi pembicaraan publik. Meski sepertinya baru terdengar, tapi ternyata ini bukan yang pertama.
Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan, Wiranto, mengungkapkan pemanfaatan komoditas Indonesia sebagai “alat pembayaran” untuk membeli alat utama sistem persenjataan (alutsista) buatan luar negeri adalah hal biasa.
Indonesia bahkan telah melakukan hal itu sejak 19 tahun lalu. "Ini bukan hal baru. Saya sudah pernah melaksanakan itu tahun 1998. Waktu itu beli Sukhoi," kata Wiranto di Istana Wakil Presiden, Senin, 7 Agustus 2017.
Kesepakatan menukar komoditas dengan kebutuhan militer itu, lanjut Wiranto, bergantung pada perjanjian antar dua negara. Barangnya pun menyesuaikan dengan keinginan penerima. "Komoditasnya macam-macam, sesuai dengan (kesepakatan) penjual atau pihak ketiga," ujar Wiranto.
Menurut Enggartiasto Lukita, kedua belah pihak, baik Indonesia maupun Rusia memiliki banyak peluang untuk meningkatkan kerja sama ekonomi karena saling melengkapi.
“Ini peluang yang tidak boleh hilang dari genggaman kita. Potensi hubungan ekonomi yang memanfaatkan situasi embargo dan kontra embargo ini melampaui isu perdagangan dan investasi yang biasa karena kita melihat peluang di bidang lainnya,” katanya menegaskan.
Perdagangan bilateral antara Indonesia dan Rusia sejauh ini masih relatif rendah. Pada tahun 2012, total perdagangan kedua negara hanya tercatat sebesar US$3,4 miliar, dengan defisit di pihak Indonesia sebesar US$1,6 miliar. Nilai perdagangan dan defisit serupa terjadi pada 2013, sebelum perdagangan bilateral menurun US$2,6 miliar pada 2014.
Pada tahun 2015, perdagangan bilateral kedua negara pun kembali mengalami penurunan menjadi US$1,9 miliar, yang dibarengi perbaikan dalam posisi neraca bagi Indonesia. Pada tahun 2016 lalu barulah perdagangan kedua negara bisa menghasilkan surplus bagi Indonesia sebesar US$411 juta.
Dan kali ini, perdagangan imbal balik ini diharapkan mampu mendongkrak kembali nilai perdagangan Indonesia. Sebuah cara yang unik, namun sah saja dalam dunia perdagangan. Pat gulipat, imbal dagang, atau apalah namanya, sejauh itu menguntungkan tentu saja layak dilanjutkan.