Warisan Budaya Jangan Sampai Hilang
- Facebook Miss Grand International
"Malaysia sendiri sudah mengakui (Kuda Warisan terinspirasi dari komunitas orang Jawa). Berarti bukan warisan (budaya) mereka. Kita (Indonesia dan Malaysia) memang serumpun, tapi Kuda Lumping itu akar budayanya ada di Indonesia," kata dia kepada VIVA.co.id, belum lama ini.
Menurutnya, dengan pengakuan itu, Malaysia tidak akan bisa mengklaim Kuda Lumping sebagai warisan budaya mereka karena tidak tahu asal usulnya. Kendati demikian, Lien menyayangkan pihak Miss Grand Malaysia yang tidak menyebut asal negara Kuda Lumping tersebut, sehingga berujung kecaman dan kontroversi di dunia maya.
Meski begitu, kejadian ini membuat nama Kuda Lumping makin besar dan mendunia. Di sisi lain, Lien meyakini, orang yang tertarik dengan Kuda Lumping, pasti akan mencari tahu sejarah dan akan diketahui asal usulnya, sehingga tak perlu khawatir warga dunia akan 'tersesat' mengenai sejarah Kuda Lumping.
Setali tiga uang dengannya, Direktur Budaya Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Sulistyo Tirtokusumo mengatakan, kejadian yang menghebohkan itu membuat Kuda Lumping justru semakin dikenal. Soal pemakaian Kuda Lumping oleh wakil Malaysia, menurut dia, sebenarnya tak masalah, namun harus disertakan asal muasal kebudayaan tersebut.
"Sehingga masyarakat dunia juga tahu kalau seni Kuda Lumping dari Jawa, Indonesia," ujar seniman tersebut kepada VIVA.co.id.
Mengenai asal usul Kuda Lumping atau Jaran Kepang, dari beberapa sumber disebutkan bahwa Kuda Lumping merupakan salah satu tari kesenian khas yang berasal dari Pulau Jawa. Para penari mengenakan peralatan berupa kuda tiruan dari anyaman bambu atau kepang bambu yang diberi cat warna warni dan diberi motif seperti kuda dan rambut palsu.
Banyak versi sejarah mengenai makna di balik tarian Kuda Lumping, mulai dari bentuk dukungan rakyat terhadap pasukan berkuda Pangeran Diponegoro dalam menghadapi penjajah Belanda hingga kisah tentang latihan perang pasukan Mataram yang dipimpin Sultan Hamengku Buwono I, untuk menghadapi pasukan Belanda.
Namun, di balik itu semua, tari Kuda Lumping merefleksikan semangat heroisme dan aspek kemiliteran sebuah pasukan berkuda atau kavaleri di tengah peperangan. Hingga kini, tarian Kuda Lumping masih sering ditemui di berbagai daerah di Pulau Jawa terutama dalam acara-acara tradisional.