Senja Kala Setya Novanto

Setya Novanto kini jadi tahanan KPK.
Sumber :
  • Anadolu Ajansi

"Dan saya dari kemarin (Kamis malam) memang sudah niat untuk datang bersama-sama DPD 1 (Partai Golkar) jam 8 (malam) tapi saya diminta untuk wawancara di Metro dan di luar dugaan saya ada kecelakaan sehingga saya selain terluka, terluka berat dan juga di kaki, tangan, dan juga di kepala masih memar, tapi saya tetap patuhi masalah hukum dan apapun saya tetap menghormati," kata Novanto.

img_title Satu Rumah Setya Novanto di Kupang Dilelang KPK

Senja kala politik

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Pengalaman menyebutkan bahwa tokoh, elite politik atau nama-nama besar yang terjerat kasus di KPK, menjadi tersangka, menemui senja kala dan akhirnya menghadapi ajal politiknya. Sebut saja Luthfi Hasan Ishaq, Anas Urbaningrum, Andi Mallarangeng, Suryadharma Ali.

img_title Bahlil Tepis Setya Novanto Masuk Struktur Partai Golkar

Tak ada yang selamat. Mereka semua tamat. Mengakhiri karir politiknya yang cemerlang, sebagai ketua umum partai politik berpengaruh di negeri ini di balik jeruji besi.

Lantas bagaimana dengan Novanto? Pria kelahiran Bandung, 12 November 1955, itu bahkan memegang jabatan politik amat prestisius. Ketua Umum Partai Golkar dan Ketua DPR. Dua posisi itu kini seakan ada di antara hidup dan mati.

img_title Peluang Setnov jadi Pengurus Partai, Golkar: Dia Senior, Tak Mungkin Dibawah Bahlil

Salah satu desakan mundur datang dari Ketua DPD Partai Golkar Jawa Barat Dedi Mulyadi. Pria yang tidak dipilih Novanto dalam Pilkada Jabar itu menyatakan DPD I Golkar di Jawa khususnya DKI Jakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, menghendaki adanya perubahan di pucuk kepemimpinan Golkar.

"Kalau ditanya dukungan DPD I. Saya sih sudah berkomunikasi dengan DPD I. Khususnya wilayah Jawa, pada prinsipnya mereka menghendaki perubahan karena mengalami kecemasan terhadap tingkat keterpilihan Golkar. Itu kan Jatim, Jateng, DKI Jakarta, yang saya berkomunikasi langsung," kata Dedi saat dihubungi VIVA, Senin, 20 November 2017.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Bupati Purwakarta itu menekankan, secara prinsip, sejumlah DPD I yang ia sebutkan ingin ada perubahan. Sebab baginya untuk apa gagah-gagahan memimpin partai kalau Golkar hanya mendapatkan tiga persen suara.

"Sehingga tak ada persoalan subjektivitas orang. Bagi saya. Siapapun, tidak bicara orang. Siapapun orangnya, baik mekanisme pelaksana tugas, munas, asalkan bisa bawa perubahan Golkar, lahirkan kepercayaan publik saya enggak ada problem karena agenda saya perubahan Golkar," kata Dedi.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut