Saat Prancis Guncang Dunia dengan Olahraga! Indonesia Tersisih: Sepakbola Belum Berjaya, Bulutangkis Tak Lagi Digdaya
- Reuters/Bhawika Chhabra
Putri Indonesia Juga Belum Kembali ke Puncak
Masalah tidak hanya terjadi pada sektor putra. Tim putri Indonesia juga gagal mencapai final Piala Uber 2026. Langkah Gregoria Mariska Tunjung dan kawan-kawan terhenti di semifinal setelah kalah 1-3 dari Korea Selatan di Horsens, Denmark.
Tunggal putri Indonesia, Gregoria Mariska Tunjung
- ANTARA/HO-PBSI
Hasil tersebut memperlihatkan bahwa Indonesia tidak lagi berada dalam posisi dominan seperti era-era sebelumnya. Memang, Indonesia masih memiliki pemain-pemain berkualitas.
Namun, persaingan semakin merata. China, Korea Selatan, Jepang, Thailand, India, hingga negara-negara Eropa kini mampu menghadirkan ancaman nyata.
Dan Prancis menjadi contoh paling menarik.Â
Sepak Bola Jadi Kekuatan, Bulutangkis Mulai Menggila
Ada ironi menarik dari perkembangan ini. Prancis sudah puluhan tahun menjadi salah satu kekuatan utama sepak bola dunia. Mereka memiliki tradisi juara, akademi pemain yang kuat, kompetisi domestik yang berkembang, serta klub seperti Paris Saint-Germain yang kini mampu mengasai level tertinggi Eropa.
Kini, energi olahraga Prancis mulai terlihat di bulutangkis. Dua emas Kejuaraan Dunia BWF 2026 menjadi bukti bahwa olahraga tersebut tidak lagi hanya milik negara-negara Asia.
Sebaliknya, Indonesia yang sepak bolanya masih berjuang mengejar level elite dunia justru mulai kehilangan keistimewaannya di bulutangkis. Kontras ini tentu menjadi bahan evaluasi serius. Sebab, bagi Indonesia, bulutangkis bukan sekadar cabang olahraga.
Kylian Mbappe di Timnas Prancis
- REUTERS/Winslow Townson
Bulutangkis adalah salah satu olahraga yang selama puluhan tahun menjadi wajah Indonesia di dunia. Ketika cabang olahraga tersebut mulai kehilangan dominasi, pertanyaannya bukan lagi sekadar siapa yang gagal memenangkan satu pertandingan.
Pertanyaannya adalah: apakah sistem pembinaan bulutangkis Indonesia mulai tertinggal dari negara-negara yang sebelumnya bahkan tidak dianggap sebagai kekuatan utama?
Prancis sudah memberikan jawabannya. Mereka datang dari negara yang identik dengan sepak bola, lalu menciptakan sejarah di bulutangkis.
Indonesia kini harus mencari jawabannya sendiri.
Jangan sampai ketika Prancis mulai memiliki dua juara dunia bulutangkis, Indonesia justru hanya tinggal mengenang masa ketika Merah Putih pernah begitu ditakuti di lapangan tepok bulu.
Sebab, status sebagai raksasa tidak diwariskan selamanya. Tanpa regenerasi, pembinaan yang tepat, dan evaluasi serius, raja lama bisa kehilangan takhta—sementara penantang baru datang membawa ambisi menjadi penguasa.