MMA Indonesia Menatap Pentas Dunia
- VIVA/Muhamad Solihin
"Ketika ingin mengembangkan suatu olahraga, itu harus dikembangkan mulai usia dini. Mudah-mudahan dari level amatir, kami bisa mendapat bibit-bibit muda unggul demi maju ke jenjang yang lebih tinggi," ujarnya kepada VIVA.
"Dan pembinaan usia dini serta amatir juga menjadi tugas KOBI," lanjutnya.
Terkait Timnas MMA, Ardi pun angkat bicara. Pihaknya tak menutup kemungkinan untuk membentuk skuat demi menghadapi dua event pada September 2018.
"Sebab, masih ada waktu menggelar persiapan. Kalau untuk event Maret 2018 belum dulu. Karena waktunya mepet dan kami ingin siapkan tim yang kompetitif," tegas Ardi.
Lonjakan Besar
Perjalanan KOBI untuk mendapat pengakuan dunia sebenarnya berlangsung dalam tempo yang singkat. Hanya saja, tetap ada jalan berliku yang harus dihadapi oleh elite-elite MMA nasional demi mendapat legitimasi dari IMMAF.
Berdiri pada 17 November 2015, KOBI merintis jalan dengan membawahi kompetisi One Pride. Di musim pertamanya, 2016, One Pride sudah menarik cukup banyak petarung untuk ikut dalam audisi.
Setidaknya, sebanyak 165 petarung berpartisipasi dalam audisi. Di musim pertamanya pada 2016, One Pride menyelenggarakan 80 pertarungan di level nasional.
Ledakan besar terjadi pada 2017. Di periode ini, minat petarung untuk ikut berlaga di One Pride kian tinggi.
Alhasil, audisi di awal 2017 banjir peserta. Setidaknya, sebanyak 488 petarung ikut dalam audisi ketiga yang digelar selama Februari 2017.
![]()
Membeludaknya peserta audisi membuat One Pride dan KOBI harus mencari cara untuk menjaring petarung lebih efektif. Dan, skema Road to One Pride pun lahir.Â
Skema pembinaan usia dini lewat Road to One Pride sebenarnya memang metode yang tepat dalam mengembangkan MMA. Sebab, para petarung ditempa lebih dulu kemampuannya lewat tingkat amatir.
Mulai karier dari kompetisi tingkat amatir, tentunya para petarung akan mengalami evolusi yang matang. Sebab, mereka bisa mendapat pengalaman serta berkembang dari tingkat bawah, sebelum tampil di pentas internasional.
"Dengan gabungnya KOBI ke IMMAF, ada prospek jenjang karier bagi para petarung. Idealnya, para petarung memang harus mengawali karier dari tingkat amatir. Dengan demikian, mereka bisa mendapatkan pengalaman, jam terbang, dan mengembangkan diri lebih matang, karena merasakan atmosfer persaingannya," ujar pengamat MMA, Bramono Lunardi, kepada VIVA.