Pelajaran Berharga dari Sebatang Rokok

Ilustrasi ayah dan anak.
Sumber :
  • U-Report

VIVA.co.id – Kali ini bapak sudah menungguku di hadapan pagar bambu depan rumah. Dengan sebatang rotan panjang di tangannya, bak seorang anggota Yakuza yang memegang sebilah katana di hadapan lawan. Aku yang berlari dari kejauhan hanya bisa memasang raut wajah memelas. “Kali ini, habislah awak!” ucapku dalam hati.

img_title Lihat Rumah Warga Korban NTT Hancur, Jokowi Langsung Titip Pesan ke Bupati Setempat

Bapak memang seorang lelaki keras serta tegas. Semua peraturan yang bundo buat untuk anak-anaknya adalah harga mati baginya. Tak seorang pun dari kedua anaknya yang berani melawan dan melakukan kudeta padanya. Badannya gempal dan besar, hampir mirip seorang Muhammad Ali. Kumis tebalnya menambah kesangaran wajah beliau. Betul-betul pria macho.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Hampir tiap hari aku merasakan “sentuhan kasih sayang” seorang bapak. Kadang dengan sebatang rotan, kadang juga dengan sebuah telapak tangan di pipi. Panas rasanya. Aku bingung, apakah beliau betul-betul sayang atau hanya sekadar menjadikanku bahan pelepas emosi?

img_title OTT HGB Bikin Geger! KPK Sita Rp106,3 M, Puluhan Miliar Ditemukan di Rumah Orang Kepercayaan Nusron

“Dari mana, wa ang? Haa!” Bapak memulai percakapan kami dengan gertakan keras. “Awak abis main sama teman-teman. Tidak usah pake marah begitu!” aku mencoba melakukan perlawanan kecil. “Alamak! Sudah mulai berani rupanya! Bagus!” Tangan bapak mulai melayang dan... taass!!! sebuah rotan melayang di betis. Rasanya tetap sama. Panas! Aku berlari terbirit-birit memasuki rumah dengan diiringi teriakan-teriakan meminta ampun. Sedangkan bapak berjalan santai di belakangku.

“Mau lari kama ang?” ucapnya dengan santai. Kegaduhan di rumah kami sudah pasti terdengar orang samping rumah. Mereka hanya berani melihat pertunjukan tersebut, namun tak berani berkomentar. Sepertinya mereka takut berurusan sama bapakku. Beliau memang bukan orang sembarangan di kampung ini.

img_title Pesan Tegas Suahasil Nazara Soal Rokok Ilegal Usai Jadi Menkeu

Kami sedang lengkap di makan malam saat ini. Semua anggota keluarga hadir. Namun, di atas meja makan ini tak seorang pun bersuara, hening. Hanya ada gerakan tangan mengambil nasi dan lauk tanpa suara di mulut. Persis seperti sebuah televisi yang diredam suaranya. Tiba-tiba sang kepala keluarga memulai percakapan makan malam ini. Selain beliau, semuanya tetap bergerak tanpa suara. Mulut mereka tetap bergerak mengunyah makanan hasil keringat sang kepala keluarga tersebut. Namun, masih tanpa suara di mulut.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut