Pelajaran Berharga dari Sebatang Rokok
- U-Report
“Samsul! Main di mana ang tadi? Jangan bilang kalau ang maen sama anak-anak preman di pos ronda itu!” suaranya khas, tajam, tanpa basa-basi. “Mmm..awak memang main di sana Pak. Tapi tidak ikut-ikut kelakuan mereka.” Aku tetap membela diri. Namun sebenarnya itu bohong. Ya, berbohong demi keselamatanku. Tidak masalah, bukan?
Sebenarnya aku memang selalu bermain bersama anak-anak preman kampung di pos ronda perempatan jalan sana. Tempatnya cukup jauh dari rumah. Karenanya aku sering terlambat bila pulang ke rumah dan terpaksa menerima sentuhan tangan kokoh orangtua di rumah. Tempat itu asyik. Tempat berkumpul, merokok, berdomino, dan kadang menggoda bunga-bunga desa yang sepertinya sengaja berlalu lalang di hadapan pos ronda tersebut. Mereka senang di gombal. Aku merasa lelaki keren bila berada di pos ronda tersebut. Ketimbang harus di rumah, menjaga adikku yang nakal dan menjaga ikan kering yang dijemur oleh bundo di atas atap rumah.
“Ang jangan bohong!” bapak kembali menghardik. “Tadi si Zainudin melihat ang mengisap sebatang rokok. Mengaku sajo!” tambahnya. “Zainuddin!!! Awas ang! Beraninya lapor-lapor!” ancamku pada adikku yang masih polos. Tapi bagiku, polos dan bodoh itu beda tipis. Tipis sekali. Si Zainuddin hanya menunduk dan tetap menikmati makan malamnya. Masa bodoh dengan abangnya yang akan dihajar habis-habisan. Bundo juga hanya sibuk merapikan dapur dan meja makan. Tak ada yang membelaku.
Dijamin, setelah kukenyangkan perutku ini, bapak akan kembali memberiku pelajaran. Belajar arti pentingnya menghargai sebuah peraturan. Pentingnya menghargai pesan orangtua. Apalagi pesan dari bapak bengis sepertinya. “Dengar ang, bila mata bapak melihat ang ini membawa sepuntung rokok ke rumah. Awas sajo! Habis kepala ang di tangan ini!”. Kali ini beliau mengancam dengan ancaman tingkat tinggi. Sepertinya tak ada lagi ampunan dan yang namanya belas kasih. Aku tak berdaya. Hanya bisa menelan air liur di tenggorokan yang sejak tadi mematung.
Segera kuhabiskan makan malamku kemudian memasuki kamar dan bergegas tidur. Melupakan semua kejadian dejavu di hari ini, kejadian yang sering berulang kali terjadi. Pulang ke rumah dan dimarahi habis-habisan. Kurang lebih seperti itu tiap hari. Yang berbeda hanyalah faktor penyebabnya.