Pelajaran Berharga dari Sebatang Rokok
- U-Report
Sebatang rokok yang masih perawan kuselipkan di saku kemeja sekolahku. Sebatang racun ini aku dapatkan dari salah seorang teman yang dikatakan preman oleh bapak kemarin. Membawa benda kecil ini ke rumah sama halnya membawa sebuah bom granat. Membuat keringat dinginku selalu keluar. Hidup jadi tidak tenang, padahal di rumah sendiri. Kujaga baik-baik benda ini agar tak terlihat oleh siapapun. Tapi tiba-tiba panggilan kamar mandi mengharuskanku untuk setoran pagi ini. Karena memang, setoran di kakus sebelum ke sekolah baik untuk pelajar menengah atas sepertiku. Biar lebih sehat, katanya.
Kutanggalkan kembali seragam sekolahku, takut bila terkena bau dan najis di kamar mandi. Kusimpan di atas meja makan dan bergegas berlari memasuki kamar mandi, sebelum sisa-sisa makanan tercecer di lantai. Sayangnya, di saat aku sedang asyik-asyiknya membuang sisa sarapan pagi tadi, kusadari bahwa sebatang rokok tadi masih terselip di saku kemejaku. Semoga tak seorang pun melihatnya, Ya, Tuhan.
Dengan kecepatan tinggi, tanpa mermperhatikan bersih atau tidak, aku siram kakus di bawahku ini dan bergegas keluar untuk menyelamatkan sebatang rokok tadi. Karena keberadaanku sebagai anak tergantung pada benda yang berisi asap itu. Kuhampiri seragam tersebut yang masih pada tempatnya semula. Sepertinya tak seorang pun memegangnya. Langsung kukenakan kembali seragam keren ini dan kurogoh sakunya. Ternyataa, tidaak!!! Tamatlah riwayatku.
Sebatang rokok itu hilang tak berbekas. Pasti jatuh atau ada yang mengambilnya. Semoga bukan Zainuddin, apalagi bapak. Jangan sampai beliau yang menemukannya. Bila beliau, maka sungguh celaka aku di dunia ini. Celaka pula di akhirat. Karena aku akan ditanyai malaikat kubur tentang alasan kematianku. Bagaimana aku menjawabnya, awak mati terbunuh di tangan bapak sendiri, hanya gara-gara sebatang rokok. Konyol sekali kematianku.
Tiba-tiba sepasang kaki menghampiriku yang sedang sibuk merangkak di bawah meja untuk mencari sebatang rokok yang hilang. “Cari apa ang di bawah situ, macam tikus mencari makan sajo!”, ternyata itu bapak. Suaranya jelas terdengar. Hanya kakinya yang terlihat dari bawah meja ini. “Awak cuma mencari uang awak yang jatuh di bawah sini”. Aku yang masih merangkak di bawah sini hanya bisa melihat perut dan sarungnya. Mencoba melihat wajahnya yang garang, dan ternyata bapak terlihat mencurigakan. Perasaanku tidak enak.