Pelajaran Berharga dari Sebatang Rokok
- U-Report
“Halah, coba ang berdiri, siapa tahu menemukan barang yang ang cari.” perintah bapak. Astaga naga, nampak sebatang rokok yang berasap ujungnya sedang bertengger di antara kedua bibir bapak! Padahal, beliau bukan perokok. Aku yakin seratus persen beliau salah seorang pembenci rokok. Wajahku hanya bisa pucat pasi ketakutan. Sebaiknya aku segera berlutut di hadapannya. Meminta ampun atas pelanggaran berat ini.
“Terima kasih rokoknya, biar bapak saja yang yang mengisapnya. Bapak tidak mau kalau ada putra bapak yang sakit-sakitan karena barang bodoh ini. Sana, cepat ke sekolah. Ang nanti terlambat.” kata-katanya begitu manis di telinga. Rupanya bapak lebih memilih mengisap racun itu ketimbang membiarkan aku, anaknya yang mengisapnya. Baru kali ini beliau bernasihat tanpa ada pukulan rotan. Baru kali ini pula beliau mengisap sebatang rokok. Rela mengisap racun itu hanya untuk melindungi putranya yang bengal dan tak tahu diri ini.
Terima kasih kembali, bapak. Kau bapak terhebat yang diberikan Tuhan padaku. Maafkan bila selama ini aku salah sangka terhadapmu. Kusadari betul bahwa hardikkan serta pukulan rotanmu yang lalu adalah sebuah pelajaran berharga yang mungkin takkan kudapatkan dari sekolah manapun di negeri ini. (Cerita ini dikirim oleh Rsjaya15, Yogyakarta)