Mata Sembab dan Satu Lembar Tisu Kusut

Aku dan sahabatku
Sumber :
  • U-Report

Setelah berusaha move on kepada Kian, ternyata aku tak bisa dan akhirnya kembali lagi ke Jody. Huuh, ya gagal move on. 18 April 2015, aku masih duduk di kelas 8B. Ada kabar yang menyebar kalau Jody jadian dengan teman sekelasnya. Dia salah satu temanku juga, namanya Alivia. Alivia yang tinggi, putih, berbakat dalam bidang Bahasa Inggris, dan mondok di asrama. Ya, aku hanya bisa apa? Aku tak pandai mengapresiasikan rasa sakitku di hadapan teman-teman. Apalagi Alivia lebih dariku.

img_title Musyawarah Besar Himpunan Mahasiswa Sastra Inggris UMI

Aku hanya bisa menangis di rumah, di rumahku yang seringkali sunyi. Pernah di hari yang entah kapan, tepatnya di depan kantor guru, Alivia datang menghampiri teman-temannya dan kebetulan aku berada di situ. Dia menceritakan kabar gembira tentang aksi so sweet-nya bersama Jody. Dia bilang ketika di kelas pas jam mata pelajaran  berlangsung dia surat-menyurat bersama Jody. Isi suratnya yang aku masih ingat berisi bahwa Jody menyebut Alivia dengan sebutan cantik dan Jody memberikan permen Kiss dengan kutipan sweet di bungkusnya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sakit. Itulah yang aku rasakan. Tapi aku tetap hanya bisa menyaksikannya. Aku bukan sutradara atas semua ini, tak berhak mengatur aksi mereka. Aku juga bukan penulis cerita yang berhak mengatur jalan sebuah cerita. Aku sungguh hanya seorang penonton yang hanya bisa menyaksikan kemudian mengekspresikan atas apa yang telah disaksikan.

img_title Wahai Orang yang Tidak Berpuasa, Hormatilah Bulan Ramadan

Masih pada tahun 2015, tanggal 24 entah bulan apa, kabarnya Jody telah berpacaran dengan Nadya. Nadya, seorang adik kelas, badannya mungil, dia manis, lebih modis dariku dan wajahnya seperti Arab. Pasrah. Aku hanya bisa pasrah. Menangis. Sakit. Setelah berbulan-bulan dengan perasaan yang sama kepada Jody. Sampai akhirnya aku bertemu tahun ajaran baru di kelas 9C dan Jody duduk di kelas 9B.

Saat itu adalah bulan Oktober. Aku dan Fatimah mulai ikut di kegiatan asrama. Kemudian sang ustadz mencantumkan nama aku dan Fatimah dalam absen semua kegiatan asrama. Tibalah saatnya perayaan Tahun Baru Islam, sang ustadz untuk pertama kalinya mengadakan lomba qasidah dan marawis. Saat panitia acara membacakan ulang anggota-anggota kelompok, aku tersenyum. Ya, aku satu kelompok dengan Jody. Tapi, Nadya juga satu kelompok dengan kami.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
img_title Jadi Dewa Mabuk Sehari
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut