Kado dari Langit

Kado Dari Langit
Sumber :
  • U-Report

Kau menerima bungkusan itu dengan wajah bersungut-sungut. “Ini uangnya, kembaliannya ambil saja.” Papa memberimu selembar uang lima puluh ribuan. “Jangan lupa, kilat khusus.” Kau mendengus kesal, bukan karena disuruh, namun karena di rumah ini tak ada yang ingat kalau hari ini adalah hari ulang tahunmu. Mama setali tiga uang dengan papa. Sepertinya mereka lupa, atau barangkali sedang menyiapkan surprise?

img_title Desa Bukan Hanya Sekadar Desa

“Papa berangkat dulu, sayang.” Papa mengecup keningmu, kemudian keluar rumah. Dengan kesal kau menempatkan pantatmu di kursi meja makan. Nasi goreng kesukaanmu sudah tak menggugah selera lagi. Nafsu makanmu terampas harapan kosong, yaitu harapan akan ada perhatian kecil atas hari istimewamu. Kau tak habis pikir, kenapa mama dan papa tak ingat dengan peristiwa penting hari ini. Jika tahun-tahun sebelumnya mereka tak memberimu kado, atau bahkan tak pernah sama sekali, kau bisa memakluminya. Tahun-tahun sebelumnya mereka selalu mengucapkan selamat, memberi kecupan, juga memberi hadiah. Tapi mereka justru tak ingat di tahun yang paling spesial, sweet seventeen!

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sayup-sayup terdengar nada panggil dari ponselmu yang berada di atas meja belajar. Kau terlanjur malas melakukan sesuatu, bahkan sekadar untuk melirik layar, mencari tahu siapa yang menghubungimu. Ketakutanmu akhirnya terjadi, kau terlambat sampai di sekolah. Pintu gerbang sudah tertutup rapat setibanya di sana. Pak Yadi, satpam sekolah yang galaknya tak tertolong itu berdiri di balik pintu gerbang. Melihat kumis lebatnya saja sudah bikin siswa ngeper, apalagi melihat wajah garangnya. Posturnya lebih cocok menjadi centeng juragan beras daripada sebagai satpam sekolah. Matanya silih berganti menghunus lima anak, termasuk kau. Celakanya, cuma kau yang perempuan.

img_title Aku Akan Tampar Mereka dengan Kesuksesanku

Ini semua gara-gara karyawan jasa pengiriman yang lemotnya tak bisa ditolerir. Mengurusi tiga pelanggan saja seperti mengurusi ratusan antrean pembagian sembako, kerjanya lamban, masih sempat-sempatnya memainkan ponsel lagi. Menjengkelkan! Ingin sekali kau menonjok wajahnya yang cengengesan itu. “Orang yang suka cengengesan memang enggak pernah beres kerjanya,” gerutumu dalam batin. Empat siswa kompak mendekati pintu gerbang dengan langkah gamang. Terpaksa kau mengekor. Tak ada pilihan selain tetap masuk sekolah, walaupun itu harus dilalui dengan hukuman berat.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut