Kado dari Langit
- U-Report
Di sebuah belokan, tampak Anto dan Yanti sedang duduk bersebelahan, kelihatannya sedang menunggumu. Kau percepat langkahmu, menemui mereka. “Hai!” sapamu canggung. Anto mengangguk malas. Yanti menatapmu tajam. “Yang lain pada ke mana?” tanyamu. “Apa pedulimu?” tanya Yanti ketus. Sungguh ucapannya baru saja melukai perasaanmu. “Kalian kenapa sih? Sejak pagi sepertinya menghindar,” ujarmu parau. “Kamu egois! Tahu enggak?” tuduh Yanti marah. “Aku?” tanyamu bingung.
Kau menatap Anto, mencoba meminta penjelasan darinya. Hanya ia yang paling bijak di antara teman se-gank-mu. Sementara bicara dengan Yanti hanya akan menguras kesabaranmu. “Rahma kabur dari rumah,” ucap Anto pelan. Kau tercengang, sejak pagi kau bahkan tak menyadari kalau Rahma tak masuk sekolah. Pikiranmu habis terbuang percuma, mencari jawab atas sikap aneh teman-temanmu. Sekarang kau ingat, Sabtu sore Rahma meneleponmu, menceritakan semua masalah yang sedang dihadapinya. Malamnya, Anto mengabarkan bahwa Rahma mabuk berat di sebuah diskotek.
Sudah lama hubungan Rahma dengan orangtuanya tak akur, terutama dengan papanya yang sering main tangan. Mamanya tak bisa berbuat banyak, justru cenderung membela papanya. Kekerasan yang dialami Rahma membuatnya sering kabur. Itu membuat keadaan bertambah parah. Puncaknya ketika papanya tahu Rahma mabuk di diskotek. Ia dikurung di dalam kamar. Senin dini hari, Rahma mengirim sms ke teman-teman se-gank bahwa ia ingin mati saja. “Kenapa pagi tadi kau tak menjawab panggilan teleponku?” Kau menepuk jidatmu. Baru kau sadari ternyata panggilan telepon tadi pagi teramat penting.
Tiba-tiba kau mengutuk diri sendiri yang telah mengabaikannya. “Tadi aku ingin memintamu untuk ke rumah Rahma. Rumahmu kan paling dekat. Kami khawatir terjadi sesuatu sama dia. Kami berharap kehadiranmu bisa menenangkannya,” jelas Anto dengan nada menyalahkan. “Maafkan aku,” ucapmu penuh penyesalan. ”Maafmu tak bisa mencegah Rahma kabur dari rumah. Dia pergi bersama cowok enggak jelas yang ia kenal lewat media sosial,” kata Anto sedih. “Aku sungguh menyesal,” ucapmu sambil menahan isak.
Kau tak akan bisa memaafkan dirimu sendiri jika sampai terjadi sesuatu dengan Rahma. Kau tahu benar, gadis itu sangat rapuh dan mudah terpengaruh. “Penyesalanmu tak mengubah apa pun!” ucap Yanti marah, menatapmu kesal, lantas berlalu dari hadapanmu. Anto mencoba mengejarnya. Tinggal kamu seorang diri, terpaku memandang kepergian dua sahabatmu dengan penyesalan yang dalam.