Kado dari Langit
- U-Report
Malam tak berbintang. Gelap menyelimuti langit, semuram wajahmu. Beberapa menit lagi hari spesialmu berlalu. Belum seorang pun mengucapkan selamat ulang tahun, sungguh sweet seventeen yang kelabu. Kau mengutuk diri sendiri, menganggap semua ini salahmu. Kau berpikir seandainya tadi pagi menjawab panggilan Anto mungkin tak ada masalah besar ini. Yang membuatmu tertekan adalah tak hanya kehilangan kenangan indah yang hanya ada sekali dalam hidupmu, tapi juga bisa kehilangan teman-teman terbaikmu.
Teleponmu bergetar. Pemanggil tak dikenal. Meskipun begitu kau tak akan mengabaikannya. Bisa saja itu panggilan penting. Cukup sekali saja kesalahan fatal kau lakukan. Bahkan kau tak peduli meski ternyata itu panggilan teror sekali pun. “Hallo.” sapamu. “Sis, maafkan aku sudah bikin kalian susah.” ucap seseorang dari seberang sana. “Rahma?” tanyamu setengah terpekik. “Kau di mana? Bagaimana keadaanmu?” tanyamu. “Aku di rumah. Tadinya aku akan pergi ke rumah nenek. Aku minta tolong seseorang untuk mengantarku, tapi dia malah menyarankanku untuk kembali saja ke rumah. Dia menasihatiku untuk bicara baik-baik dengan orangtuaku. Setelah kupikir-pikir, benar juga sarannya. Meskipun belum ada kesepahaman dengan orangtua, namun aku akan hadapi masalah ini. Sekarang aku sadar, seringkali Tuhan memberi hadiah terbungkus masalah, aku hanya perlu membuka bungkusnya,” jawab Rahma. “Syukurlah.” Kau menghela napas lega.
Satu masalah sudah teratasi. Ketakutanmu akan terjadi sesuatu dengan Rahma berangsur mencair. Sekarang tinggal memperbaiki hubunganmu dengan teman se-gank. “Met ultah ya. Maaf enggak bisa kasih hadiah.” ucap Rahma. “Terima kasih, Rahma.” ucapmu terharu. “Kau pulang ke rumah dan berani menghadapi masalah, itu sudah merupakan hadiah yang sangat spesial, kado dari langit yang luar biasa indah. Benar katamu, seringkali Tuhan memberi hadiah terbungkus masalah, kita hanya perlu membuka bungkusnya. Tinggal Nelly, Anto, Yanti, dan Andien yang belum memberiku hadiah. Besok akan aku buka bungkusnya.” Rahma terkekeh. “Kita buka bareng bungkusnya.” Tanpa dikomando kalian kemudian tertawa bersama. (Cerita ini dikirim oleh Akhmadalhasni)