Melihat Keberhasilan Pendidikan Karakter di Purwakarta

Tas siswa di Purwakarta
Sumber :

Hari Kamis bertema “Nyanding Wawangi”. Untuk menjadikan pelajar Purwakarta berkarakter, salah satu upayanya menyukai estetika budaya serta mewarisi jiwa seni. Tujuannya, agar bisa bisa membawa harum tanah airnya. Pada hari ini siswa khusus belajar estetika, sastra, mendekorasi ruangan, dan sebagainya.

img_title Keseruan Sahur di Mess Awak Kereta Parung Panjang

Hari Jumat bertema “Nyucikeun Diri”, berisi penanaman nilai spiritual dan kebersihan lingkungan. Sebagai umat beragama, pelajar Purwakarta harus menjaga kesucian hati, jiwa, dan pikiran agar tetap terjaga dan selalu dekat dengan Tuhan dengan cara beribadah.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Hari Sabtu dan Minggu bertema “Betah di Imah”, yang dapat diartikan para siswa Purwakarta harus merasa nyaman berada di rumah masing-masing dengan bersikap saling membantu pekerjaan di rumah. Setiap pelajar diharapkan bisa saling mengenal dengan sesama anggota keluarganya.

img_title Desa Bukan Hanya Sekadar Desa

“Revolusi” Makan

Bupati menggulirkan kebijakan “revolusi makan”. Melalui kebijakan ini, lingkungan sekolah dinyatakan bersih dari pedagang makanan. Langkah ini ditempuh untuk menjaga kadar gizi makanan yang dikonsumsi siswa.

img_title Aku Akan Tampar Mereka dengan Kesuksesanku

Sebagai gantinya, diluncurkan program belajar Purwakarta Tangguh dengan memberikan makanan daging, telur, dan susu setiap bulan kepada siswa SD. Pada hari lainnya, pelajar Purwakarta harus membawa bekal makan yang dibuatkan orang tuanya. Kebijakan itu berlaku bagi sekolah dasar. Pasalnya, banyak jajanan anak yang tidak terjamin kesehatannya. Menurut Dedi, perlu ada perubahan paradigma mengenai bekal makanan anak. Jangan sampai anak selalu diberi uang untuk membeli jajanan di sekolah. Jajanan itu tidak terjamin nilai kesehatannya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Pandangan Dedi Mulyadi yang demikian itu memiliki alasan yang kuat. Berdasarkan penelitian Dinas Kesehatan setempat, 80 persen jajanan anak di sekolah mengandung zat kimia berbahaya. Karena itu, perlu ada kebiasaan yang mendisiplinkan setiap anak harus membawa bekal buatan ibu masing-masing. Pola memberi uang saku tiap hari harus diubah. Uang saku itu diganti dengan dibelikan bahan makanan yang bergizi.

“Revolusi” makanan ini dampaknya sangat positif. Terutama, bagi anak-anak. Mereka tetap bisa mendapat asupan makanan yang jauh lebih bergizi dibanding dengan jajan sembarangan. Supaya kebijakan ini dilaksanakan, Dedi akan mengeluarkan payung hukum. Jadi, siapa saja kepala sekolah yang tidak menjalankannya akan kena sanksi. “Sanksinya berupa skors,” ujarnya.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut