Melihat Keberhasilan Pendidikan Karakter di Purwakarta

Tas siswa di Purwakarta
Sumber :

Membuat Tas Sendiri

img_title Bawa Mobil ke Sekolah, Siswa SMA di Purwakarta Di-DO

Peraturan Bupati No. 69/2015 juga berisi antara lain ajakan agar pelajar Purwakarta efisien memanfaatkan produk daur ulang tas buatan sendiri. Bahannya bisa dari plastik bekas bungkus makanan atau bisa juga dari karung terigu.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Selain hemat, memakai tas daur ulang buatan dapat meningkatkan kesadaran siswa hidup produktif. Dengan peraturan ini, siswa dilarang menggunakan tas sekolah dari berbagai produk dan jenis, termasuk buatan luar negeri dengan harga beli tinggi yang saat ini banyak dipakai anak-anak sekolah.

img_title Musyawarah Besar Himpunan Mahasiswa Sastra Inggris UMI

“Kebiasaan tersebut sangat tidak baik buat pendidikan karakter anak-anak. Sebab secara tidak langsung anak-anak sudah dididik menjadi penganut konsumerisme sejak dini.” ucap Dedi. “Jadi, kebiasaan itu harus dihentikan.”

Ajakan menggunakan tas daur ulang bagi anak-anak sekolah, kata Dedi, secara otomatis akan meningkatkan daya kreativitas dan semangat mereka serta orang tua mereka, terutama ibunya. “Seorang ibu pasti akan membimbing anaknya dalam menyokong kreativitas pembuatan tas daur ulang ketimbang nonton sinetron di televisi,” ujar Dedi.

img_title Wahai Orang yang Tidak Berpuasa, Hormatilah Bulan Ramadan

Ananda, seorang pelajar kelas VII SMPN 7 Purwakarta, mengaku senang menggunakan tas daur ulang hasil kreasinya sendiri. “Tasnya lebih enteng dan nyentrik,” katanya sambil tertawa. Ia mengaku membuat tas daur ulang itu karena diwajibkan sekolah atas perintah Bupati Dedi.

Mendaur ulang bekas kantong terigu untuk dijadikan tas sekolah yang keren, kata Ananda, tidak memerlukan biaya besar. “Modalnya cukup 25 ribu rupiah,” tuturnya. Ia menyatakan tak malu memakainya karena semua temannya pun kini memakai tas berbahan sama.

Tidur Siang di Sekolah

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Para pelajar diizinkan tidur siang di sekolah saat jam istirahat. Tujuannya agar siswa lebih nyaman dalam menjalani kegiatan belajar-mengajar. Kebijakan ini diberlakukan di sekolah, baik negeri maupun swasta. Para pelajar menjalani proses belajar di sekolah sampai pukul 14.00 WIB atau pukul 13.00 WIB. Dengan begitu, pada pukul 11.30, para pelajar bisa beristirahat atau tidur untuk kemudian melaksanakan salat dzuhur.

Kebijakan ini dibuat karena siswa sekolah di Purwakarta diwajibkan masuk kelas pukul 06.00 WIB. Selain itu, fleksibilitas ini diterapkan oleh Dedi Mulyadi dengan alasan agar siswa menikmati sekolahnya dengan santai. “Ketika ngantuk, ya tidur saja," kata Dedi mulyadi. Sebab menurutnya, setelah tidur siang biasanya pelajar akan lebih segar dan bisa mengikuti pelajaran dengan optimal. Tidur siang juga bermanfaat untuk meningkatkan daya ingat otak.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut