Melihat Keberhasilan Pendidikan Karakter di Purwakarta
Peduli Peternakan
Program lain yang tak kalah menarik adalah program siswa sekolah peduli peternakan. Mereka harus terlibat langsung dalam peternakan dan pertanian. Salah satu syarat naik kelas, siswa harus memiliki hewan ternak sendiri. Hewan yang dipelihara boleh jenis apa saja, asal memiliki nilai ekonomis, seperti ayam, bebek, kambing, dan kerbau.
Â
Untuk menjaga ketersediaan air dan kesuburan tanah sehingga membantu menciptakan proses produksi pertanian yang berkelanjutan, digulirkan program peduli lingkungan. Targetnya menanam 10 juta pohon. Bupati Dedi menilai kesadaran menjaga lingkungan sudah saatnya masuk dan terlibat dalam dunia pendidikan. Untuk itu, ke depan Dedi juga menggagas akan ada zona penanaman pohon di sekolah.
Kelak tidak sekadar menanam, setiap siswa harus punya basis data berapa mereka menanam pohon dan bagaimana merawat pohon itu. Penilaiannya dimasukkan ke rapor. Dengan kegiatan menanam pohon masuk ke kurikulum, nantinya menanam pohon akan menjadi persyaratan siswa untuk naik kelas.
Dedi tak lupa memberikan instruksi kepada Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Purwakarta agar siswa di Purwakarta membuat laporan harta kekayaan (LHK). Kebijakan ini dibuat sebagai tindak lanjut kebijakan siswa memiliki hewan dan tanaman sebagai sarana pendidikan di luar jam sekolah. Siswa membuat laporan, hewan ternaknya berapa dan punya tanaman apa saja.
Peduli Pertanian
Mungkin hanya di Purwakarta kepedulian terhadap dunia pertanian ini sungguh-sungguh dilaksanakan hingga ruang sekolah. Berlatar belakang situasi modernisasi yang membawa dampak hilangnya mata pencaharian kaum tani, Dedi Mulyadi mendorong gerakan pertanian.
Menginggat soal ekonomi merupakan gerakan bagian dari gerakan kebudayaan, ia sadarkan siswa sekolah untuk peduli pendidikan. Ada waktu khusus dalam setiap pekan agar para guru menerapkan pendidikan praktik lapangan dengan pembelajaran aktif di sawah atau ladang. Bahkan setiap musim panen raya, para siswa sekolah diajak memanen padi atau hasil panen lain.
Pada kesempatan pesta panen raya, Dedi bahkan mengajak siswa-siswi terjun bermain-main dengan lumpur dengan tujuan menghargai tanah. Tanah bukan hal yang patut dijauhi karena ia adalah tempat pijakan hidup manusia. Dengan mencintai pertanian, Dedi Mulyadi berharap kelak masyarakat di Purwakarta anak-anak petani tetap memiliki mata pencaharian (sumber ekonomi) dan tidak terjebak pada ekonomi perkulian.