Kisah Perjalananku untukmu Bunda

Bulan
Sumber :
  • Space.com

Aku lebih nyaman berdialog dengan bulan. Ia tak pernah membantah jika aku mengatakan sesuatu yang salah. Ia hanya pasrah meski kadang kumeneriakinya ketika aku sedang kesal. Ia satu-satunya yang tak pernah menganggapku orang aneh. Ayah bilang aku menjadi aneh sejak bermimpi kau menjadi bulan. Seharusnya aku tak menceritakan mimpi itu kepadanya. Tapi selain bulan, hanya ia tempatku mengadu.

img_title Desa Bukan Hanya Sekadar Desa

Aku berbeda dengan ayah, yang selalu bercerita kepada siapa saja. Ayah memang ceriwis, sampai-sampai aku tak betah berlama-lama bicara dengannya, kecuali jika ia bercerita tentang bulan. Dan aku bingung ketika ia mengatakan kalau kau lebih ceriwis darinya. Tak bisa kubayangkan bagaimana berisiknya suasana ketika kalian saling berceloteh. Ayah tetaplah lelaki yang pernah kau kenal. Renyah di luar namun lembut di dalam. Aku menyebutnya wafer cokelat, tentu kau akan terkekeh jika mendengar saat aku mengatakannya. Ia selalu menyembunyikan kesedihan di balik mulutnya yang tak mau diam.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Mas, kuliah atau kerja?" tanya perempuan di sebelahku lagi. "Dua-duanya," jawabku enggan. "Anakku juga sebesar kamu. Laki-laki, kuliah sambil kerja," katanya. Kali ini aku sedikit terkejut mendengar pengakuannya. Kuperhatikan ia masih muda, mungkin sekitar 35 atau 38 tahun. Menurutku ia belum waktunya memiliki anak seumuranku.

img_title Aku Akan Tampar Mereka dengan Kesuksesanku

Wajahnya cantik, terpoles make-up tipis. Pakaian yang ia kenakan juga tak seperti ibu-ibu pada umumnya, bahkan cenderung seperti anak muda, kaos ketat warna putih terbungkus jaket biru dengan bawahan blue jeans. Rambutnya dicat merah bermodel slide-swept. Penampilannya tak beda dengan teman-teman kampusku.

"Apa aku tak tampak seperti ibu-ibu?" tanyanya seolah bisa membaca keterkejutanku. "Ya, begitulah!" jawabku. Ia tersenyum, kali ini level 10. "Jadi, aku panggil Anda, mbak atau bu?" tanyaku. "Namaku Heni. Terserah mau memanggilku, Mbak atau Bu," jelasnya. "Bagaimana kalau, Tante Heni?" tawarku. "Itu juga boleh," jawabnya. "Lalu, aku panggil kamu apa?" tanyanya. "Anto," jawabku agak gugup. Baru kali ini aku berkenalan dengan seorang perempuan. Meski usianya jauh di atasku, namun ia masih tampak menarik.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
img_title Buka Bersama Eratkan Silaturahmi Anggota DN Malut Makassar
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut