Kisah Perjalananku untukmu Bunda

Bulan
Sumber :
  • Space.com

"Apakah ibumu seumuranku?" Deg! Jantungku hampir berhenti berdetak. Aku paling tak suka jika ada orang yang bertanya tentangmu. "Lebih tua beberapa tahun dari usia tante," jawabku. Kuberanikan menatapnya. "Jika profesi ibuku seperti tante, aku tak akan mempermasalahkannya." Tante Heni menatap lurus mataku. "Benarkah?" Aku mengangguk mantap. "Meskipun menjadi wanita penghibur?" Aku kembali mengangguk. "Apa pun itu!"

img_title Desa Bukan Hanya Sekadar Desa

Tante Heni mendesah panjang. "Kamu bisa bilang begitu karena kamu tak pernah merasakan menjadi anak seorang pelacur," terangnya. Entahlah, mungkin saja ia benar. Satu hal yang pasti, aku hanya ingin merasakan belaianmu, bunda. Jika kau masih hidup, aku tak akan malu apa pun profesimu.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Kini, sunyi menyergap suasana di dalam bus. Sebagian besar penumpang tidur. Beberapa orang yang masih terjaga, lebih banyak diam atau larut dengan HP. Aku mencoba memejamkan mata, namun bayangan wajah ayah melintas di pikiranku. Aku rindu cerita ayah tentang bulan. Salah satu cerita yang menurutku lucu adalah ketika kau yang kala itu sedang mengandungku disuruh bersembunyi di kolong tempat tidur oleh nenek karena sedang ada gerhana bulan. Menurut mitos Jawa, orang hamil harus bersembunyi di kolong tempat tidur agar tidak terjadi sesuatu yang tak diinginkan.

img_title Aku Akan Tampar Mereka dengan Kesuksesanku

Ayah juga mengidentikkan kau dengan bulan. Kata ayah kau selalu ceria. Senyummu sangat meneduhkan. Namun, bulan juga memiliki sisi gelap yang masih misteri. Kau menyembunyikan sesuatu. Kau selalu mengelak setiap kali ayah menanyakannya. Misteri itu terungkap setelah kau tiada. Kau menyimpannya rapat-rapat karena tak ingin membebani pikiran ayah. "Ibumu pasti bangga padamu," ujar Tante Heni membuyarkan lamunanku. "Entahlah!"

"Anakku sampai sakit karena syok memiliki ibu seorang perempuan bejat. Ia tak mau lagi bicara denganku. Ia juga tak mau lagi menerima uang pemberianku," Tante Heni berkaca-kaca. Aku mengangguk, ada rasa iba terselip di sudut hati. Ia tak layak menerima perlakuan itu. "Pagi tadi, aku menjenguknya di rumah kos," lanjut Tante Heni. "Ia memang menerimaku, tapi uang pemberianku, ia kembalikan. Padahal uang itu aku kumpulkan dari menjadi buruh cuci. Ia masih belum percaya kalau aku sudah bertaubat."

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
img_title Buka Bersama Eratkan Silaturahmi Anggota DN Malut Makassar
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut