Kisah Perjalananku untukmu Bunda

Bulan
Sumber :
  • Space.com

Tante Heni tak kuasa menahan derai air mata. Aku tak tahu harus berbuat apa. Jika punya tisu, pasti sudah kutawarkan padanya. Aku bayangkan betapa berat ia menerima kenyataan itu. "Jika menjadi dia, apa kau akan melakukan hal yang sama?" tanya Tante Heni seraya menyeka air mata dengan jarinya. "Aku akan memercayaimu, akan tetap menghormatimu sebagai ibu. Tak ada alasan bagiku untuk menyakiti perasaanmu," jawabku. "Alasannya?" tanyanya. "Apakah butuh alasan untuk menghormati seorang ibu?" Tante Heni menatapku tak percaya.

img_title Musyawarah Besar Himpunan Mahasiswa Sastra Inggris UMI

"Jika boleh memilih, aku tak mau bunda mengandungku kalau akhirnya kelahiranku menyebabkan kematiannya," kataku sedih. Tante Heni terperangah. "Ibumu sudah tiada?" Aku mengangguk. Giliran Tante Heni yang iba padaku. Aku mengacuhkannya. Kulirik ke luar jendela. Bulan kembali mengikuti bus yang kutumpangi.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Aku tersenyum kepada bulan, menatapnya dengan penuh cinta. Ayah benar, aku serasa melihat dirimu, saat memandangnya. Dalam hati aku bicara padanya, seolah sedang bicara padamu. Sampai tak terasa, aku tertidur. Kalau tak dibangunkan Tante Heni, mungkin aku masih terlelap. "Sebentar lagi sampai terminal. Kamu turun di mana?" tanya Tante Heni. "Terminal," jawabku. "Aku turun sebelum terminal," kata Tante Heni sambil menata barang-barang bawaannya. "Bolehkah aku menganggapmu sebagai anak?" tanya Tante Heni berharap. Aku reflek mengangguk.

img_title Wahai Orang yang Tidak Berpuasa, Hormatilah Bulan Ramadan

Ia tersenyum bahagia. Matanya berbinar, menatapku aneh. Seperti itukah tatapan seorang ibu kepada anaknya, Bunda? "Semoga kita dipertemukan lagi," katanya sambil beranjak ke pintu depan. Di sebuah pertigaan, ia turun. Aku segera bersiap.

Tak lama lagi bus masuk terminal. Seperti biasa, yang pertama kuperiksa adalah dompet. Tiba-tiba aku terkejut karena tak ada apa-apa di saku celana belakang. Kucari di atas kursi, di kolong kursi, di saku baju, dan sekitar tempat duduk, tak juga kutemukan. Rupanya dompet berada di dalam tas ransel.

img_title Jadi Dewa Mabuk Sehari

Setelah kuperiksa isinya, mataku terbelalak. Uang yang tadi hanya empat lembar, kini lebih banyak. Kuhitung ada penambahan uang 500 ribu rupiah. Kenapa bisa terjadi? Kuperiksa lagi isi dompet dan menghitung ulang uang di dalamnya, hasilnya tetap sama. Uangku bertambah.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut